Terbentuknya menteri kesepian Jepang bagi kesejahteraan mental masyarakat dalam memaknai esensi kehidupan

kesepian Jepang

Cynthia Gabriel Irene

Setelah mengikuti mata kuliah Sejarah Kontemporer Jepang, maka saya tertarik terhadap salah satu tema yang dijadikan bahan diskusi pada pertemuan kuliah secara daring.  Tema ini mengenai perdana menteri Jepang, Yoshihide Suga yang menunjuk menteri revitalisasi regional, Tetsushi Sakamoto untuk menjadi menteri kesepian Jepang. Sakamoto ditugaskan untuk mengawasi, mengatasi, dan menolong seluruh masyarakat yang merasa kesepian dan terisolasi pada masa pandemi COVID-19 saat ini.  

Seperti yang kita ketahui bersama, COVID-19 merupakan virus yang berasal dari Wuhan, China yang mewabah di seluruh dunia. Virus ini sangat berbahaya karena telah menyebabkan banyak korban jiwa bukan hanya di beberapa negara, melainkan seluruh negara di dunia hingga saat ini masih berjuang melawan virus COVID-19. Salah satu negara yang menerapkan peraturan-peraturan baru untuk mencegah virus ini semakin meluas adalah Jepang. Jepang hingga saat ini sudah menerapkan protokol kesehatan pada sekolah, kantor, rumah sakit, dan seluruh instansi-instansi yang menyangkut banyak jiwa agar memperkecil jumlah korban akibat COVID-19.

Akibat dari pandemi COVID-19 sangat merugikan masyarakat terutama pada bidang ekonomi. Kurangnya pemasukan pada perusahaan membuat beberapa perusahaan harus melakukan pemutusan tenaga kerja. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan akhirnya mulai merasa terkungkung dan tidak berdaya dalam menjalani kehidupan di masa pandemi ini. Salah satu bidang usaha yang paling banyak mengalami kerugian ialah bidang usaha jasa. Karena, masyarakat sudah membatasi diri untuk berinteraksi secara langsung maka bidang usaha jasa kurang diminati yang berakibat kepada banyaknya karyawan yang kehilangan pekerjaannya. Salah satu dasar timbulnya kekhawatiran dan perasaan depresi di dalam masyarakat ialah karena kehilangan pekerjaannya.

Selama masa pandemi yaitu dimulai pada tahun 2020, tindakan bunuh diri semakin melonjak di mana korbannya kebanyakan perempuan. Dikatakan bahwa pada bulan Oktober 2020, angka bunuh diri pada perempuan naik sekitar 70% dari angka pada bulan oktober tahun 2019. Salah satu badan amal bernama Bond Project yang berada di kawasan Yokohama merupakan lembaga yang mencegah aksi bunuh diri. Mereka menjelaskan bahwa selama pandemi COVID-19 begitu banyak para perempuan yang depresi dan ingin mengakhiri hidupnya. Ada perempuan yang mengalami pelecehan seksual oleh ayahnya sendiri, dikarenakan ayahnya yang tidak bekerja lagi dan hanya berada di rumah sehingga dirinya tidak memiliki jalan keluar untuk menghindari pelecehan seksual yang dilakukan ayahnya. 

Selain itu, perusahaan yang paling banyak terkena dampak COVID-19 ialah perusahaan di bidang pariwisata, ritel, dan industri makanan di mana pekerjanya kebanyakan merupakan perempuan. Sehingga, banyak perempuan yang dipecat dan menjadi depresi karena tidak lagi memiliki penghasilan. Karena jumlah angka bunuh diri semakin meningkat, maka pemerintah membentuk bagian yang fokus bertugas untuk mencegah bunuh diri. Dalam hal ini, menteri kesepian Jepang akan mencanangkan langkah-langkah komprehensif yang kiranya dapat menurunkan angka bunuh diri yang terjadi pada masa pandemi ini. Salah satu langkah awal ialah dengan memperluas layanan konsultasi kepada masyarakat yang membutuhkan. 

Langkah pemerintah dalam menetapkan divisi atau bagian untuk mencegah bunuh diri di Jepang walaupun belum dikatakan efisien akan tetapi merupakan awalan yang baik sebagai bukti nyata bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah turut aktif dalam menangani masalah fisik maupun psikis yang dialami oleh masyarakatnya, terlebih di masa pandemi yang sangat sulit ini. Bunuh diri tidak dapat dianggap biasa apalagi angkanya semakin mengalami peningkatan. Hal ini juga dapat berakibat buruk bagi keberlangsungan suatu negara. Jika angka kematian semakin meningkat melebihi angka kelahiran, maka negara tersebut akan mengalami krisis sumber daya manusia (SDM) di mana SDM merupakan salah satu penyokong adanya suatu negara. Oleh karena itu, pemerintah harus terus memikirkan langkah-langkah komprehensif yang kiranya dapat memberikan efek efisien menyeluruh terhadap seluruh pihak. 

Namun, untuk mengatasi fenomena bunuh diri ini bukan hanya kewajiban pemerintah saja melainkan kewajiban seluruh masyarakat sebagai bentuk kemanusiaan yang saling mendukung dalam menjalani kehidupan. Masyarakat harus peka dan berusaha untuk mengajak seseorang yang kesepian atau merasa tidak berharga untuk mencari dan menikmati esensi di dalam kehidupan. Tiap orang pasti memiliki caranya masing-masing tetapi kadangkala kita masuk ke dalam lubang besar dan kesulitan untuk menanjak naik. Oleh karena itu, manusia membutuhkan manusia yang lain untuk naik dan melewati rintangan lainnya. Jangan bersikap tidak peduli karena masing-masing orang memiliki kesempatan untuk merasakan suka dan duka. Semoga menteri kesepian Jepang mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat agar efisiensi tujuan menteri kesepian Jepang dapat tercapai dan angka bunuh diri semakin menurun. Semoga kesejahteraan mental masyarakat Jepang segera pulih kembali.

Japan Corner

Budaya dan koleksi tentang Jepang di Universitas Hasanuddin

Artikel Terbaru