Lainnya
Jelajahi budaya dan koleksi tentang Jepang di Universitas Hasanuddin
Kenali Japan Corner lebih lanjut
Sebagai pusat galeri kebudayaan Jepang di Universitas Hasanuddin, Japan Corner hadir dengan beragam koleksi boneka hinamatsuri, novel, hingga manga.
Boneka Hinamatsuri
Di Jepang, pada awalnya, boneka digunakan sebagai alat untuk mengusir roh-roh jahat. Boneka disebut dengan nama hitogata (人型) yang dimaknai sebagai pengganti manusia. Kepercayaan ini berawal dari usaha yang dilakukan masyarakat untuk mengusir roh-roh jahat di alam dunia menggunakan kekuatan spiritual yang dimiliki oleh boneka. Tidak hanya menitipkan harapan agar dilindungi dari sakit dan bencana, masyarakat juga menitipkan berbagai macam harapan seperti agar hama yang terdapat dalam biji-bijian yang mereka tanam dapat dibasmi, agar mereka mendapatkan banyak anak, dan banyak harapan lainnya.
Seiring berjalannya waktu, boneka diberikan kepada anak perempuan sebagai sebuah mainan, dan bentuknya pun dibuat menjadi semakin cantik dan indah. Pada awalnya, boneka merupakan barang yang disediakan untuk dihanyutkan ke air dalam tradisi, namun kemudian menjadi barang yang dapat juga disimpan dan dipajang.
Pemberian boneka pada anak perempuan memiliki makna tersirat, yaitu sebagai tempat untuk menitipkan harapan agar anak perempuan mengalami pertumbuhan yang baik dan bahagia.
Kimono
Kimono (着物) merupakan istilah untuk pakaian tradisional negara Jepang. Kata Kimono itu sendiri, berasal dari kata 着(ki) yang berarti ‘memakai’ dan 物 (mono) yang berarti ‘barang’. Kimono termasuk dalam hasil seni yang dapat menampilkan keindahan dan keunikan bagi pemakainya.
Kimono terbuat dari sebuah kain yang dijahit secara vertikal dengan kepanjangan hingga mata kaki dan bentuk lengan yang menyerupai empat persegi panjang. Pada saat memakainya, kimono diikat menggunakan sebuah ikat pinggang lebar yang dibentuk menjadi sebuah hiasan menarik. Ikat pinggang tersebut, biasa disebut dengan nama Obi. Secara garis besar, kimono terdiri dari empat bagian, yaitu bagian Sode (lengan), Migoro (badan), Okumi (kain pembebat), dan Eri (kerah). Kimono dibuat tanpa ukuran yang spesifik atau bisa dikatakan bahwa kimono mengabaikan bentuk badan si pemakai.
Kimono dapat dipakai oleh laki-laki maupun perempuan. Kimono untuk perempuan terdiri dari beberapa jenis, yaitu Uchikake Kimono, Houmongi Kimono, Omeshi Kimono, Yukata Kimono, Tomesode Kimono, dan Furisode Kimono. Kimono untuk laki-laki sedikit lebih berbeda dengan Kimono yang biasanya digunakan oleh perempuan. Kimono untuk laki- laki cenderung lebih sederhana. Warna dan motifnya dibuat lebih sederhana dibanding kimono yang digunakan oleh perempuan. Kimono laki-laki berbentuk lurus tanpa memiliki panjang yang lebih. Adapun untuk bentuk Obi yang digunakan oleh laki-laki lebih kecil dan berwarna lembut. Kimono untuk laki-laki juga tidak memiliki jenis khusus, seperti kimono yang digunakan oleh perempuan.
Butsudan
Secara harfiah, butsudan (仏壇) merupakan altar Buddha, sebuah kuil kecil yang biasa ditemukan di kuil atau rumah-rumah di Jepang. Kuil ini berisi beberapa aksesori keagamaan yang biasa disebut Butsugu. Butsugu terdiri atas tempat lilin, pembakar dupa, lonceng dan platform untuk menempatkan persembahan seperti buah, teh atau nasi.
Beberapa umat Buddha menggunakan butsudan sebagai tempat untuk menyimpan abu almarhum dari kerabatnya didalam atau didekat butsudan. Ruang tertentu yang ditempati butsudan disebut dengan istilah butsuma. Kepercayaan tradisional Jepang mengasosiasikan kuil ini dengan rumah buddha, bodhisattva, dan kerabat almarhum yang diabadikan didalamnya.
Tempat suci seperti ini dianggap sebagai bagian penting dari kehidupan keluarga tradisional Jepang. Dimana ketika tempat suci ini diganti atau diperbaiki oleh keluarga akan dilakukan suatu upacara pemugaran. Pembuatan butsudan lebih sering terjadi didaerah pedesaan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu hal yang unik di Jepang, karena beberapa negara Buddhis lainnya tidak mewajibkan umatnya untuk membuat sebuah altar dirumah mereka.
