Ilalang dalam Ladang Tebu, Potret Kemiskinan dan Tunawisma Jepang

Tunawisma Jepang

Risman Amala Fitra

Akhir Maret lalu, netizen dihebohkan oleh unggahan video dari Daisuke di kanal YouTubenya, Daisuke Botak. Bagaimana tidak, dalam tiga video yang diunggahnya, ia menampilkan wawancara eksklusif dengan salah satu bintang porno yang melegenda, Shigeo Tokuda, atau populer disebut Kakek Sugiono di Indonesia. Namun, saya tidak akan membahas ketiga video itu di sini. Beberapa minggu kemudian, Daisuke kembali mengunggah video yang berjudul “Realita Tunawisma di Jepang”. Cukup dengan membaca judulnya saja, sudah menggugah saya untuk menontonnya.

Menit demi menit saya habiskan menyaksikan video itu. Isinya kurang lebih adalah dokumentasi perjalanan Daisuke menyusuri daerah pinggiran Tokyo, tepatnya di tepian sungai Kanagawa. Sesuai judulnya, Daisuke mengajak para penontonnya untuk menyaksikan keseharian para tunawisma yang tengah beraktivitas. Bersama seorang rekan, YouTuber yang masih belum terlalu fasih berbahasa Indonesia itu  menyambangi beberapa tunawisma yang tinggal di bawah jalan layang. Sambil membagikan cemilan yang ia bawa dari Indonesia, Daisuke mencoba mewawancarai seorang tunawisma yang sedang sibuk mengumpulkan rongsokan.

“Saya sudah tinggal di sini selama 10 tahun. Sangat sulit mencari kerja ketika umur sudah diatas 60 tahun, sedangkan umur saya sudah 65 tahun. Situasi yang paling sulit adalah ketika kami menghadapi musim dingin,” jawab seorang tunawisma yang diwawancarai di depan tenda tepatnya bermukim.

Di tepian Kanagawa, tidak hanya satu atau dua orang, melainkan puluhan bahkan terdapat area yang menjadi tempat bermukim banyak sekali tunawisma. Sebenarnya saya sudah melupakan apa yang saya simak dari video itu, tetapi mata kuliah Sejarah Jepang Kontemporer yang sempat membahas tentang kemiskinan, membuat saya kembali menontonnya. Rasa penasaran menuntun saya untuk mencari lebih jauh tentang masalah kemiskinan di Jepang, menggiring saya pada satu dugaan liar bahwa Jepang menyembunyikan kemiskinannya.

Di tengah gemerlap hingar-bingar kota Tokyo yang mewah, potret tunawisma yang ditampilkan Daisuke seperti ilalang di tengah ladang tebu. Itu hanya satu dari sekian banyak isu kemiskinan yang sedang dihadapi oleh Jepang. Kemiskinan semakin yang meluas di Jepang ini seakan luput dari sorotan kamera dunia luar. Dari data yang saya peroleh melalui dunia.tempo.co, masyarakat kalangan menengah ke bawah yang setiap tahunnya berpenghasilan kurang dari  3,4 juta yen (Rp 457 juta), jumlahnya kian meningkat.  Bahkan, kategori ini sudah bertambah sampai 9 juta orang. Kategori ini biasanya adalah pekerja non-formal.

Berdasarkan  statistik terbaru,  Organisasi Kerja sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD, angka kemiskinan (kemiskinan relatif yang berarti pendapatan rumah tangga di bawah setengah pendapatan rata-rata di negerinya, yaitu, 1,22 juta yen atau 161 juta rupiah) mencapai 15,7%. Angka ini mengantarkan Jepang ke posisi kedua di antara anggota G7 setelah Amerika Serikat, bahkan posisinya lebih tinggi dari Inggris, Italia dan Kanada.

Untuk masalah tunawisma, dilansir dari BBC News Indonesia, jumlah tunawisma tergolong tidak terlalu banyak, dibanding negara-negara maju lainnya. Namun, pandemi yang telah terjadi selama setahun terakhir semakin memperparah situasi.

Berdasarkan data yang saya peroleh dari mediaindonesia.com, ada lebih dari 10 juta warga Jepang yang harus hidup dengan kurang dari US$19.000  per tahun.

Di lain sisi,  satu dari  setiap empat orang diketahui berada dalam “kemiskinan relatif” karena harus bertahan dengan penghasilan kurang dari setengah dari rata-rata median nasional tentang pendapatan. Hal ini juga berujung pada meningkatnya angka bunuh diri di Jepang menjadi sekitar 3000 kasus pertahunnya. Uniknya, pemerintah Jepang malah mengambil sikap seolah-olah menutupi kenyataan ini. 

Salah satu bukti bahwa pemerintah  “menyembunyikan penderitaan” ini tercermin pula pada sikap mantan perdana menteri (PM) Abe Shinzo yang tidak menggubris prestasi yang diraih oleh Koreeda Hirokazu, sutradara  Shoplifters (Manbiki Kazoku). Film yang dirilis pada 2018  berkisah tentang keluarga pengutil, menggambarkan “orang-orang kalah” di pinggiran Tokyo yang terkenal sebagai kota kehidupan glamor, kemajuan teknologi dan kesuksesan ekonomi. Film ini masuk nominasi Oscar untuk kategori Best Foreign Language dan Palme d’Or di Festival Film Cannes.

Meskipun meraih segudang pujian, PM Abe tidak menyukai gambaran kaum yang terpinggirkan secara sosial dalam film tersebut. Melansir dari tabloid Halo Jepang, Abe memang dikenal sering mengecam media pemberitaan apabila ia menemukan berita yang tidak sesuai dengan harapannya. 

Bagaimanapun juga, pemerintah dan warga Jepang adalah satu kesatuan bangsa yang memiliki kebanggaan yang tinggi akan jati diri mereka. Menurut mereka, masalah kemiskinan bukanlah sesuatu yang patut untuk diumbar. Hal ini juga tercermin dari beberapa tunawisma yang sempat menolak untuk diwawancarai dalam video perjalanan Daisuke.

Dalam situasi pandemi covid-19 ini, kemiskinan tentu saja akan menjadi sebuah api kecil yang akan terus membesar bila tidak ditangani dengan tepat. Situasi ini pun seakan menyingkap kebenaran tentang meluasnya kemiskinan yang dihadapi oleh Jepang. Pada kondisi ini, kita sebagai mahasiswa perlu melakukan upaya untuk mendukung pemulihan ekonomi Indonesia yang agaknya juga berdampak pada pemulihan ekonomi dunia. Karena kemiskinan dapat memadamkan api harapan dan impian masyarakat yang ingin memeroleh hidup lebih layak.

Japan Corner

Budaya dan koleksi tentang Jepang di Universitas Hasanuddin

Artikel Terbaru