Sisi Lain Hikikomori

Hikikomori

Irfan Faizal Malik

Jepang adalah salah satu negara Asia paling maju. Tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga memiliki kemajuan di bidang teknologi, pendidikan, serta informasi. Meskipun begitu, Jepang mengalami kemunduran di bidang sosial sebagai implikasi akan kemajuannya. Kemajuan dalam berbagai hal ini telah mengubah cara bergaul di masyarakat. Penindasan oleh yang kuat terhadap yang lemah, serta pergaulan yang tanpa batas. Bagi korban penindasan, mereka akan menjadi orang yang. Tetapi ada orang yang tetap terjun di masyarakat atau malah mengakhiri hidupnya. Dengan kata lain, sulitnya kehidupan sosial di Jepang mampu membuat seseorang membahayakan diri sendiri sebagai cara untuk melepaskan stres. Sulitnya melepaskan stres di Jepang membuat seseorang tidak ingin bertemu dengan keadaan yang membuatnya tertekan sehingga cenderung menjadi seorang hikikomori. Namun, hikikomori ini kemudian mengarah kepada banyak sekali permasalahan dan menyulitkan kehidupan masyarakat Jepang, sebagai tambahan dari kehidupan masyarakat Jepang yang sudah menjadi sangat kompetitif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Hikikomori adalah fenomena yang sedang menjadi masalah di Jepang. Hikikomori terdiri dari kata hiki dan komori. Hiki berarti  menarik, sedangkan komori berarti menutup diri atau mengurung diri. Secara singkat, hikikomori dapat diartikan sebagai seseorang yang menutup diri dan mengurung diri dari lingkungan sekitarnya. Hikikomori secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “menarik diri dan mengekang”, adalah sebuah fenomena sosial yang merujuk pada penarikan diri seseorang dari kehidupan sosial, disertai dengan isolasi dan pengekangan diri. Kebiasaan ini membuat para pelakunya hanya beraktivitas di luar pada malam hari. Biasanya, seorang hikikomori menarik diri secara utuh dari kehidupan sosial sebagai bentuk stress atau frustrasi terhadap kesulitan menghidupi diri dengan standar yang tinggi di Jepang. Pada beberapa kasus, mereka justru mengunci diri mereka sendiri di dalam kamar dalam waktu yang lama, bahkan ada beberapa yang terhitung sampai tahunan. Penderita hikikomori biasanya kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain dan menarik diri dari kehidupan sosial secara total. Mereka biasanya memilih untuk menjalani gaya hidup alternatif, hidup di dalam suatu realita yang berbeda seperti dapat dijumpai pada video game, komik, internet, dan film-film animasi. Istilah Hikikomori akhirnya digunakan untuk menunjuk fenomena antisosial di Jepang, di mana orang-orang menarik diri dari kehidupan sosial dan menghabiskan hidup di rumah, atau bahkan di dalam kamar.

Dibalik banyaknya pernyataan tentang dampak negatif Hikikomori, nyatanya Hikikomori juga memiliki beberapa dampak positif. Contohnya seperti berikut :

  • Punya Banyak Waktu Luang

Bisa menggunakan jam lengang yang ada untuk mengerjakan kegiatan bermanfaat. Jika memiliki hobi yang menarik, kita mengembangkan hobi tersebut. Kalau punya bakat, kembangkan juga bakatnya dan mulai fokus untuk terus berlatih sehingga nantinya dapat menjadi keahlian di masa depan. 

  • Tidak Terjerumus Pergaulan Bebas

Ini juga menjadi salah satu dampak positif Hikikomori. Saat ini, banyak orang yang salah pengertian soal bergaul. Biar dianggap keren dan diterima oleh sebuah kalangan, mereka manut mengikuti semua tuntutan pergaulan. Pada akhirnya, masa depan menjadi korban akibat tidak bisa menjaga diri. Memang, takdir orang itu tidak ada yang tahu. Bisa saja orang-orang yang terjerumus pergaulan bebas bisa menjadi lebih sukses dari orang-orang yang selama ini menjaga diri. Sayangnya, tidak ada kesuksesan yang jatuh dari langit secara tiba-tiba. Semuanya perlu diusahakan. Setidaknya, seseorang yang agak Hikikomori tidak gampang terjerumus pergaulan bebas

  • Privasi Terjaga

Orang yang pandai menjaga privasinya, hidupnya lebih damai disebabkan sedikit orang yang mengetahui aib dan kejelekannya. Hal ini membuat masyarakat tidak mudah bergunjing tentang diri kita dan mengurangi tingkat stres. Bagaimana pun, bukan sebuah kiasan semata bahwa lidah lebih tajam dari mata pedang. Tukang gosip memang dapat membunuh seseorang tanpa perlu menyentuhnya.

Fenomena hikikomori hingga saat ini masih terus terjadi. Memang, banyaknya pelaku dari hikikomori tentunya memberikan akibat atau dampak buruk bagi individu yang melakukan hikikomori dan keluarga yang bersangkutan. Para pelaku hikikomori tanpa disadari akan membentuk citra negatif pada pikiran mereka dan orang-orang disekitarnya. Keadaan ini dipersulit dengan adanya kecenderungan bagi para pelaku hikikomori untuk melakukan tindak kekerasan pada orang-orang disekitarnya. Selain itu para pelaku hikikomori baik yang melakukan tindak kekerasan maupun tidak dapat menjadi beban bagi orang tua dan keluarganya secara moral maupun material, karena mereka tidak melakukan kegiatan bermanfaat dan tidak memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya. Tetapi dibalik semua itu, ada beberapa dampak positif bagi penderita Hikikomori. Selama mereka melakukan hal yang baik, kenapa tidak mereka melakukannya. Dibalik semua hal negatif, pasti ada hal positifnya. Mereka melakukan hal tersebut bukan semata-mata karena ingin mencobanya saja, melainkan ada hal yang terpaksa membuat mereka melakukannya.

Japan Corner

Budaya dan koleksi tentang Jepang di Universitas Hasanuddin

Artikel Terbaru