Melonjaknya Kasus Bunuh Diri di Jepang selama Pandemi: Sebuah Tradisi atau Solusi?

Jihan Pertiwi Dahlan

Kemunculan Covid-19 (Corona Virus Disease-19) sejak awal tahun 2020 sangat menggemparkan masyarakat di seluruh dunia, pasalnya virus ini memakan begitu banyak korban mulai dari anak-anak hingga lansia, semuanya dilahap tanpa terkecuali. Masyarakat juga dibuat kelabakan karena banyaknya dampak yang ‘dihasilkan’ oleh wabah ini. Terhitung sejak menyebarnya Covid-19 ke seluruh belahan dunia, kini medis tidak lagi menjadi satu-satunya persoalan yang harus dihadapi oleh masyarakat, lantaran wabah ini memberikan pengaruh terhadap seluruh dimensi kehidupan, mulai dari ekonomi hingga pendidikan. 

Akibat dari pandemi Covid-19 ini tidak sedikit masyarakat yang merasa cemas dan kesepian hingga akhirnya memutuskan untuk bunuh diri, contoh kecilnya ialah masyarakat di Jepang. Sejak pandemi ini berlangsung, kasus bunuh diri di negara Jepang kian melonjak lantaran banyak masyarakat yang mengalami depresi karena harus isolasi mandiri. Guna menanggapi hal ini, pemerintah Jepang pun melakukan berbagai cara untuk menekan angka kasus bunuh diri. Namun, jauh sebelum pandemi ini terjadi, Jepang sudah tercatat sebagai salah satu negara dengan kasus bunuh diri tertinggi di dunia. Melihat banyaknya kasus bunuh diri yang terjadi di Jepang apalagi selama pandemi ini membuat penulis bertanya-tanya, apakah bunuh diri di Jepang dianggap sebagai sebuah tradisi atau malah solusi untuk menyelesaikan semua masalah hidupnya?

Bunuh diri di Jepang : “Sebuah Tradisi atau Solusi?”

Bunuh diri merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk mengakhiri hidup, hal ini berkaitan erat dengan masalah psikologis, ataupun faktor-faktor lain yang meliputi faktor sosial, budaya maupun peran lingkungan. Lantas, apa faktor paling umum seseorang melakukan bunuh diri? dikutip dari popbela.com, gangguan mental, depresi, bullying, kecanduan narkotika, masalah keuangan, dan masalah asmara merupakan faktor umum yang menyebabkan seseorang memilih untuk bunuh diri. Meskipun demikian, perlu digaris bawahi bahwa tindakan bunuh diri merupakan hal kompleks yang harus dilihat dari berbagai sisi dan pandangan. Hal tersebut dikarenakan ada berbagai macam pendapat mengenai bunuh diri.

Di Jepang sendiri ada jenis bunuh diri tertentu yang dianggap sebagai suatu tindakan terhormat untuk mengakhiri hidup, seperti harakiri atau seppuku yang dilakukan oleh para samurai dengan cara merobek perut dan mengeluarkan ususnya, ada pula kamikaze yang dilakukan oleh pasukan udara Jepang saat perang dunia II dengan menabrakkan pesawatnya pada musuh. Umumnya, motif harakiri pada masa itu merupakan suatu tindakan untuk memperlihatkan kesetiaan si samurai kepada tuannya atau sebagai ungkapan rasa malu karena kekalahan yang ia alami saat perang. Tetapi, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman, motif bunuh diri warga Jepang belum sepenuhnya bergeser, karena masih didasari atas prinsip kesetiaan serta rasa malu.  

Hingga kini bunuh diri masih terus terjadi di Jepang, dan hal tersebut diperparah dengan adanya pandemi Covid-19. Di Jepang, jumlah kematian akibat Covid-19 justru lebih rendah dibandingkan dengan jumlah orang yang bunuh diri. Dilansir dari kompas.id, sebanyak 20.919 warga Jepang meninggal karena bunuh diri sepanjang 2020. Pada periode yang sama, pandemi Covid-19 menewaskan 3.460 orang di Jepang. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Hal ini dikarenakan banyak warga Jepang yang merasa cemas dan kesepian, khususnya di kalangan pemuda dan pelajar. Tidak sedikit dari mereka yang merasa cemas akan masa depannya, belum lagi perselisihan keluarga yang harus mereka hadapi karena mereka kini menghabiskan lebih banyak waktu dirumah dibanding disekolah atau dikantor. Hal inilah yang kemudian menjadi pemicu stres hingga menyebabkan mereka bunuh diri. 

Untuk mengatasi hal ini pemerintah Jepang pun melakukan berbagai upaya untuk mengidentifikasi penyebab guna menekan angka kasus bunuh diri. Salah satu upaya yang Jepang lakukan ialah dengan menunjuk Tetsushi Sakamoto sebagai menteri kesepian. Sementara itu, mereka juga menemukan kembali pendidikan mengenai kesehatan mental bagi pelajar SMA, tindakan ini dilakukan untuk membantu para pelajar mengenali penyakit-penyakit kejiwaan, sekaligus mengajari mereka bahwa ada peluang penyembuhan jika penyakit jiwa segera diketahui. Pengetahuan mengenai kesehatan mental ini juga disebarkan kepada guru maupun pegawai sekolah guna membantu sekolah membuka kesempatan lebih besar untuk membantu pelajar yang membutuhkan konsultasi. Upaya ini memang tidak sepenuhnya menekan angka bunuh diri di Jepang, namun cukup membantu bagi mereka yang mengalami kesehatan mental, seringkali orang-orang yang merasa kesepian juga butuh “seseorang” untuk mendengarkan segala keluh kesah mereka. Dan dengan adanya upaya-upaya ini tentu saja hal tersebut bisa membuat mereka merasa jauh lebih baik. 

Hemat penulis, bunuh diri di Jepang adalah sebuah tradisi sekaligus solusi bagi mereka yang ingin melepaskan beban hidupnya. Mengapa demikian? jika menilik kembali sejarah Jepang pada dasarnya bunuh diri memang sudah menjadi sebuah tradisi yang hingga kini tetap dilakukan oleh masyarakat di sana, karena ada sebuah “doktrin” yang secara tidak langsung membuat mereka menganggap bahwa bunuh diri adalah tindakan yang benar, sebab mereka memandang bunuh diri sebagai peralihan menuju kehidupan yang lebih baik, atau mempunyai arti untuk mengembalikan nama baik mereka, contohnya harakiri atau seppuku. Namun tidak jarang pula mereka menganggap bunuh diri sebagai sebuah solusi untuk mengakhiri semua masalah hidup yang dialami. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa dengan bunuh diri maka semua masalah tersebut akan hilang dan tidak lagi menghantui mereka. Tetapi hal ini tidak bisa dijadikan suatu pembenaran terlepas dari itu tradisi ataukah solusi, lantaran bunuh diri bukanlah suatu tindakan yang baik untuk dilakukan.

Kesimpulan dan Penutup

Adanya pandemi Covid-19 sudah cukup membuat seluruh belahan dunia kelimpungan, lantaran banyak nyawa yang akhirnya harus terenggut akibat pandemi ini. Tidak sedikit juga orang-orang yang akhirnya merasa depresi, cemas, hingga kesepian lalu memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Lantas apakah bunuh diri merupakan pilihan terbaik? Tentu saja tidak. Seharusnya pandemi ini kita jadikan suatu pembelajaran agar kita lebih menghargai nafas yang kita miliki, karena diluaran sana banyak sekali orang-orang yang berjuang demi bisa bertahan hidup. 

Keberadaan pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease-19) ini secara tidak langsung mengajak kita untuk tidak berpasrah diri dan hanya mengeluh, karena sebenarnya masih banyak sekali hal yang bisa kita lakukan dibanding harus menyerah pada depresi, atau rasa cemas yang kita hadapi. Jangan jadikan tindakan bunuh diri sebagai solusi untuk mengatasi semuanya, kita mungkin merasa baik-baik saja, namun tidak bagi mereka yang ditinggalkan. Semoga kita semua terus dikuatkan, dan semoga pandemi ini segera berakhir.

Japan Corner

Budaya dan koleksi tentang Jepang di Universitas Hasanuddin

Artikel Terbaru