Mickhael Gaha Sambrani
Sebagian dari kita mungkin memiliki lagu-lagu penenang yang kerap kita dengarkan. Musik yang kita dengarkan seolah-olah menjadi obat tersendiri. Selain itu, bagi beberapa orang musik menjadi bagian kehidupan mereka yang tidak boleh terlewatkan setiap mereka menjalani hari.
Tentang kekuatan musik dan pengaruhnya bagi kita, para ilmuwan menemukan bahwa musik memang mengandung ‘sesuatu’ yang mampu meredakan penyakit, depresi, meningkatkan produktivitas dan persepsi kita tentang dunia.
Lagu dapat mempengaruhi pendengarnya bisa karena musik tersebut terbuat dari hasil pengalaman pribadi pembuatnya atau menyangkut pengalaman pribadi orang yang mendengarkannya. Bahkan ada juga yang dapat memberikan pengaruh atau menyentuh pendengarnya yang sama sekali belum merasakan kejadian tersebut tapi bisa dapat merasakannya melalui musik tersebut. Itulah keajaiban musik.
Salah satu negara yang banyak menyumbangkan musik yang fresh di dunia permusikan adalah Jepang. Salah satu negara yang saya rasa juga apresiasi terhadap music yang sangat tinggi. Entah kenapa menurut saya sendiri secara pribadi musik Jepang memiliki vibes tersendiri dan selalu dikemas unik, baik dalam segala macam genre. Begitu juga dengan apresiasi seninya, termasuk musik indie yang berkembang secara mandiri tanpa label di negara tersebut, yang masih dapat berkembang secara baik, karena begitu di apresiasinya musik di sana.
Tapi dibalik Jepang dengan segala keunikan dan kreatifnya. Tetap ada berbagai macam hal yang kelam, salah satunya bencana gempa bumi Jepang 2011 yang masih terang di ingatan kita. Jepang adalah negara yang paling sering mengalami gempa besar dan berdampak pada masyarakat. Hal ini karena Jepang berada di pertemuan lempeng Samudra Pasifik dan Lempeng Laut Filipina yang aktif sehingga setiap kali bertabrakan, atau memisah guncangan akan terasa sampai ke permukaan tanah Jepang.
Kembali mengingat salah satu bencana gempa bumi terbesar di Jepang tahun 2011 yang lalu. Memberikan bekas duka yang mendalam bukan hanya bagi rakyat jepang, tapi seluruh dunia juga merasakannya. Bukan hanya gempa bumi saja, tapi diikuti dengan tsunami setinggi 10 meter dan insiden nuklir.
Gempa Jepang berkekuatan 9,0 magnitudo pada 11 Maret 2011 itu adalah salah satu yang terbesar di dunia. Bencana yang dikenal dengan nama Gempa Tohoku atau Gempa Fukushima itu memicu tsunami yang menghancurkan perkotaan, serta merobohkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi. Lebih dari 18.000 orang tewas yang sebagian besar akibat tsunami, dan hampir setengah juta warga mengungsi.
Lebih dari 18.000 orang tewas yang sebagian besar akibat tsunami, dan hampir setengah juta warga mengungsi. Pemerintah juga mengumumkan, sekitar 3.700 orang tewas sebagian besar akibat efek dari gempa Tohoku dan tsunami tersebut. Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Gempa dan Tsunami Tohoku Bikin Jepang Tertunduk Lesu Associated Press (AP) mewartakan, 40.000 lebih warga masih tidak bisa pulang ke rumah di Fukushima dan sekitarnya, karena terdampak kontaminasi radioaktif.
Terlepas dari itu semua, layaknya manusia yang jatuh harus bangkit, begitu pula dengan Jepang. Beberapa bulan setelahnya harus bangkit dari lembah duka itu. Bukan main-main, tidak hanya kerugian materi, tapi kehilangan ribuan jiwa menjadi yang terberat.
Berbagai macam bentuk pemulihan dilakukan, baik itu secara materi maupun non-materi, logis maupun psikologis. Salah satu yang banyak menyita perhatian adalah cara Jepang menggalang dana pemulihan melalui sebuah lagu. Yang tentu saja sangat menyentuh seluruh orang yang mendengarkan, satu dunia. Ya, dari lagu tersebut tiga bulan setelah Jepang mulai bangkit kembali.
Lagu ini berjudul Hana wa Saku/Flower will Bloom (花は咲く; Bunga – Bunga Bermekaran). merupakan lagu produksi NHK yang menjadi theme song untuk aksi kemanusiaan dalam rangka recovery pasca gempa dan tsunami pada Jumat, 11 Maret 2011 (lebih dikenal dengan istilah 3.11 disaster). Mimpi buruk terkelam dan kesedihan terberat berubah menjadi senandung lagu yang begitu magis ditangan Iwai Shunji (sang penulis lirik) dan Kanno Yoko (sang komposer). Tentunya ini merupakan pekerjaan yang sangat berat bagi mereka, mengingat keduanya berasal dari wilayah Miyagi daerah yang paling keras terhantam gempa (selain Iwate dan Fukushima Prefecture), dan dinyanyikan sebanyak 33 artis asal Miyagi, Iwate dan Fukushima, ketiga daerah terparah yang mereka juga dilanda bencana gempa dan tsunami tahun 2011. Hasil penjualan single ini disumbangkan untuk membantu rehabilitasi wilayah korban bencana.
Kita dapat melihat banyak makna dari lagu ini. Bukan hanya dari arti liriknya dan juga melodi yang sangat menyentuh, tapi bagaimana Jepang berusaha bangkit dari masa duka itu dan juga tidak lupa bahwa masih ada orang lain selain mereka dengan meminta bantuan masalah akan lebih ringan untuk diatasi, dan kita juga dapat melihat bagaimana respon dari setiap negara termasuk Indonesia. Kita dapat melihat bahwa masih ada harapan bagi kita semua jika kita selalu bergandeng tangan bersama.
Faktanya lagi NHK pada tahun ini, 2021 lagu itu dinyanyikan dalam versi multibahasa, termasuk Indonesia. Sangat menarik. Dan menjadi lebih fresh Kembali, walaupun tetap untuk mengenang luka lalu.

