Solusi Bagi Peningkatan Kasus Bunuh diri di Jepang di masa Pandemi

Kasus Bunuh diri di Jepang

Nur Fadillah

Jepang telah lama menjadi salah satu negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Dari data yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan PBB, WHO, di tahun 2012 Jepang merupakan Negara ke-3 setelah Republik Korea dan Hungaria yang memiliki kasus bunuh diri terbesar di dunia. 

Dari jumlah 100 ribu orang terdapat hampir 20 kasus kematian bunuh diri. Jumlah laki-laki lebih banyak daripada perempuan sebagai pelaku bunuh diri, dengan perbandingan 26,9 adalah laki-laki dan 10,1 adalah perempuan. Pada tahun 2012 ini, jumlah total kasus bunuh diri di Jepang mencapai 29.442 kasus dengan perbandingan jumlah laki-laki 20.888 dan jumlah perempuan 8554 korban. Bunuh diri merupakan penyebab kematian terbesar kedua, untuk kelompok pemuda dengan rentang umur 15 sampai 29 tahun, sementara pelaku bunuh diri terbanyak adalah kelompok lanjut usia di atas umur 70 tahun. 

Sementara, angka kematian bunuh diri terbesar terjadi pada tahun 2008 yang mencapai lebih dari 34.000 jiwa.1 pada tahun selanjutnya pemerintah melakukan sejumlah langkah untuk membantu mereka yang mempunyai resiko bunuh diri salah satunya dengan kampanye anti bunuh diri. Namun, Pada tahun 2008-2009 angka bunuh diri masih naik turun dan kecenderungan kasus lebih banyak terjadi pada pria. 

Selanjutnya pemerintah semakin melakukan upaya dalam penurunan jumlah angka bunuh diri melalui berbagai program dan hasilnya pada tahun 2014 terjadi penurunan kasus kematian karena bunuh diri menjadi sekitar 25.427 kasus, berdasarkan data statistik Badan Kepolisian Nasional Jepang. Angka kematian ini menurun sekitar 6,8 persen dari sebelumnya, atau bisa dikatakan merupakan jumlah yang paling sedikit sejak 1997.

Menteri Kesepian Sebagai Solusi Terhadap Peningkatan Angka Bunuh Diri Selama Pandemi

Setelah mengalami penurunan angka dalam 10 tahun terakhir, pada tahun 2020 angka bunuh diri di Jepang melonjak dan yang mengejutkan adalah kebanyakan kasus bunuh diri dilakukan oleh wanita. Seperti yang kita ketahui sejak awal tahun 2020 terjadi pandemi covid-19 yang menimpa dunia. Selama oktober tahun 2020 jumlah bunuh diri dikalangan perempuan Jepang meningkat hingga 70%. Berdasarkan data yang dirilis oleh pemerintah Jepang, jumlah kematian karena bunuh diri di Jepang sepanjang bulan Januari-Oktober 2020 lebih tinggi dari jumlah kematian akibat terpapar covid-19. 

Dalam data statistik tersebut, disebutkan bahwa jumlah orang yang meninggal akibat bunuh diri hingga bulan Oktober tahun lalu meningkat 3,7% menjadi 20.919 orang, sementara jumlah orang yang meninggal karena pandemi tercatat lebih rendah, yakni di angka 3.460 orang. Lonjakan kasus ini umumnya disebabkan oleh perekonomian yang semakin sulit dan banyak orang kehilangan pekerjaannya. Hal ini juga menyebabkan peningkatan angka bunuh diri pada wanita karena banyak wanita yang bekerja di sektor informal dan paruh waktu (part time) yang merupakan sektor paling terdampak pandemi. 

Selain masalah ekonomi, yang menjadi masalah utama adalah masalah kesehatan mental yang dirasakan selama terisolasi, banyak masyarakat yang mengalami depresi karena rasa kesepian yang dirasakan oleh masyarakat Jepang. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi lonjakan angka bunuh diri di masa isolasi karena pandemi salah satu yang menghebohkan adalah dengan dilantiknya Menteri Kesepian yang bertugas membantu orang-orang yang merasa kesepian dan terisolasi.

Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga melantik Tetsushi Sakamoto menjadi Menteri Kesepian (Minister Of Loneliness) untuk mengatasi masalah kesepian yang dirasakan oleh orang-orang Jepang selama terisolasi akibat Covid-19. Tugas menteri kesepian menjadi berat karena bunuh diri di Jepang merupakan masalah yang telah ada sejak lama ditambah lagi pandemi yang terjadi saat ini. 

Di Jepang sendiri anak yang sudah dewasa akan bekerja di Kota besar dan hidup sendiri dengan biaya hidup yang tinggi. Mereka akan fokus mencari “uang” dan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya berkurang. Bahkan kebanyakan pemuda Jepang memilih untuk tidak menikah dan hidup sendiri dikarenakan mereka merasa tidak bisa bertanggung jawab dengan keluarganya dan beban ekonomi yang ditanggung akan semakin besar. 

Berkurangnya interaksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar ini yang memicu tingkat individualitas yang meningkat. Hal ini yang memicu rasa kesepian yang dialami orang Jepang. Kesepian adalah emosi manusia universal yang kompleks dan unik untuk setiap individu. Karena tidak memiliki penyebab umum tunggal, pencegahan dan pengobatan kondisi pikiran yang berpotensi merusak ini dapat bervariasi secara dramatis. Kesepian menyebabkan orang merasa kosong, sendirian, dan tidak diinginkan. Orang yang kesepian sering mendambakan kontak manusia, tetapi keadaan pikiran mereka membuatnya lebih sulit untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Hal ini semakin dipicu karena sifat orang Jepang yang tidak mau merepotkan orang lain. 

Beberapa faktor demografi dan sosial ekonomi dikaitkan dengan peluang yang lebih tinggi untuk kesendirian. Temuan bahwa individu yang lebih muda dari 70 tahun lebih mungkin untuk kesepian sesuai dengan hasil dari sejumlah penelitian yang menyoroti usia muda sebagai faktor risiko kesepian selama pandemi. Sehubungan dengan ini, ada kemungkinan bahwa kebijakan yang dirancang untuk mencegah penyebaran virus corona seperti isolasi, pembelajaran jarak jauh, teleworking, cuti dan pembatasan perjalanan mungkin secara tidak proporsional berdampak terutama bagi orang dewasa dalam hal peningkatan isolasi sosial dan kesepian. 

Kesepian secara signifikan meningkatkan kecemasan dan depresi yang berdampak bagi kesehatan mental masyarakat Jepang dan dampak yang paling buruk adalah perilaku bunuh diri. Orang-orang yang kesepian akan merasa bahwa mereka tidak dibutuhkan lagi di masyarakat dan melakukan tindakan bunuh diri sebagai solusi. Dengan segala problema ini adanya Menteri Kesepian dapat membantu orang-orang yang terisolasi dari sosial dan mampu menghubungkan kembali interaksi sosial antar masyarakat melalui kerja sama dengan berbagai pihak baik itu menteri kesehatan, maupun menteri pertanian seperti yang dikatakan Sakamoto dalam wawancaranya di Media. 

Ini merupakan langkah yang cukup cermat yang diadakan oleh pemerintah Jepang dalam menangani lonjakan kasus bunuh diri selama pandemi. Upaya pendekatan komprehensif yang dilakukan oleh Menteri Kesepian ini diharapkan mampu mengurangi angka bunuh diri selama pandemi dan untuk kedepannya tugas Menteri Kesepian akan berlanjut untuk terus menekan angka bunuh diri di Jepang tidak hanya selama pandemi tapi untuk seterusnya.

Kesimpulan

Bertambahnya jumlah angka bunuh diri di Jepang yang telah menurun selama satu dekade dipicu adanya pandemi covid-19 yang melanda dunia saat ini. Kematian akibat bunuh diri mengalami lonjakan yang tinggi terutama dikalangan wanita yang meningkat menjadi 70%. Peningkatan angka ini dikarenakan kebanyakan wanita di Jepang bekerja di sektor informal seperti paruh waktu yang notabene merupakan sektor paling terdampak pandemi. Mereka kehilangan mata pencahariannya dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

 Semntara itu masalah yang paling utama yang menyebabkan peningkatan angka bunuh diri dikarenakan depresi yang dipicu rasa kesepian dan terisolasi. Seperti yang kita ketahui bahwa saat pandemi segala kegiatan tatap muka atau interaksi manusia secara langsung dibatasi sehingga orang Jepang semakin merasa kesepian, ditambah lagi kebanyakan orang Jepang memilih untuk tinggal sendiri daripada hidup berkeluarga yang semakin memperparah rasa kesepian dan terisolasi. Untuk itu, pemerintah Jepang melantik Menteri Kesepian untuk menanggulangi masalah tersebut. Menteri kesepian bertanggung jawab dalam menurunkan angka bunuh diri dengan membantu orang-orang yang merasa kesepian dan terisolasi dari dunia luar. Upaya pendekatan komprehensif akan dilakukan oleh Menteri Kesepian untuk mengatasi masalah ini dan diharapkan upaya tersebut dapat berjalan efektif.

Japan Corner

Budaya dan koleksi tentang Jepang di Universitas Hasanuddin

Artikel Terbaru