Sindrom Hikikomori Dikalangan Mahasiswa

Sindrom Hikikomori Dikalangan Mahasiswa

Oktaviani Nindi Pratama

Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki berbagai fenomena sosial. Salah satunya yaitu adanya fenomena seorang remaja yang sulit bahkan tidak mau bertemu dengan  lingkungannya maupun orang lain dan hanya mengurung diri di dalam kamar. Fenomena demikian dikenal dengan istilah hikikomori. Kata hikikomori terdiri dari dua kanji yaitu 引く yang artinya menarik dan 篭り yang artinya menutup diri. Menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, definisi hikikomori adalah orang yang menolak untuk keluar dari rumah, dan mengisolasi diri mereka dari masyarakat dengan terus menerus berada di dalam rumah untuk satu periode yang melebihi enam bulan. Sedangkan Menurut Dr. Tamaki Saitou sendiri seorang hikikomori adalah seseorang yang menutup diri dari lingkungan sosial dan tidak mengikuti kegiatan-kegiatan sosial di sekitarnya selama enam bulan atau lebih. Pada intinya hikikomori adalah sebuah fenomena sosial di Jepang dimana seseorang menarik diri dari lingkungan sosial karena alasan tertentu. 

Pelaku hikikomori akan mengurung diri mereka demi menghindari interaksi sosial dengan dunia luar. Namun, tidak semua orang melakukannya dengan tingkat yang sama. Para ahli telah mengidentifikasikan 4 jenis hikikomori, di antaranya:

  • Pra-hikikomori: Orang-orang ini tetap pergi menghadiri kuliah seperti biasa. Namun, mereka berusaha menghindari diri dari segala bentuk interaksi sosial. 
  • Social Hikikomori: Mereka menolak untuk bekerja atau belajar, tetapi memiliki beberapa hubungan sosial yang sebagian besar dilakukan secara online. 
  • Tachisukumu-gata: Tipe orang ini menunjukkan fobia sosialnya secara nyata. Mereka akan merasa sangat takut saat dihadapkan dengan dunia luar. 
  • Netoge Hajin: Secara harfiah, Netoge Hajin memiliki arti “computer zombie”, di mana anak-anak remaja ini benar-benar terisolasi dan menghabiskan waktu di depan komputer atau hal virtual lainnya.

Ada 4 faktor penyebab seseorang menjadi hikikomori. Pertama, faktor lingkungan sekolah. Dalam hal ini antara lain adalah ijime, tookyoo kyohi, gogatsu byo dan kegagalan dalam mengikuti ujian.  Kedua, Faktor Keluarga, antara lain hubungan orang tua dengan anak yang terlalu erat, hitorikko, tuntutan orang tua, peran anak laki-laki dalam sebuah keluarga dan kesejahteraan keluarga dan child’s room. Ketiga, adalah faktor lingkungan sosial. Dari kehidupan sosial seperti lingkungan luar rumah (tetangga), informasi-informasi yang dipublikasi oleh media massa, serta faktor tradisi juga berpengaruh untuk membuat seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Keempat, faktor individu. Dari sisi individu sendiri sebenarnya adalah yang paling menentukan seseorang akan terjun ke dunia hikikomori atau tidak. Dalam hal ini adalah karena depresi. Faktor individu sendiri bisa berupa akibat dari faktor-faktor penyebab hikikomori lainnya. Kondisi mental seseorang yang terus menerus ditekan oleh banyaknya tuntutan agar menjadi seseorang yang sukses pun dapat menimbulkan depresi bagi orang tersebut. Contoh kasus yang terjadi pada individu sebagai penyebab menjadi seorang pelaku hikikomori mirip dengan contoh kasus yang terjadi pada faktor dari sekolah. Karena pada saat depresi, menjadi hikikomori merupakan salah satu jalan yang akan diambil.

Hikikomori ini biasanya dialami oleh para remaja berusia 20 tahunan. Hikikomori lebih banyak dialami para pria dibanding wanita, rasionya sekitar enam kali lebih tinggi. Kemudian hikikomori ini tidak ada hubungannya dengan keluarga berkecukupan atau tidak berkecukupan secara ekonomi. Bahkan, kebanyakan berasal dari keluarga yang orang tuanya berpendidikan tinggi. 

Mahasiswa merupakan salah satu yang mengalami sindrom hikikomori. Biasanya dikenal dengan mahasiswa kupu-kupu. Mahasiswa kupu-kupu merupakan singkatan dari mahasiswa kuliah pulang kuliah pulang, biasanya mahasiswa kupu-kupu ini datang ke kampus hanya untuk kuliah lalu setelah selesai kegiatan perkuliahan, mereka akan pulang dan begitu terus dari hari ke hari. Mahasiswa kupu-kupu ini cenderung tidak suka untuk mengikuti serangkaian aktivitas organisasi yang ada di kampus ataupun mengikuti diskusi kelompok di kampus, sehingga  mereka cenderung tertutup pada lingkar pertemanan yang terbatas.  Jika melihat dari penjelasan hikikomori di atas, mahasiswa kupu-kupu ini bisa dikatakan sebagai penganut hikikomori. Mahasiswa kupu-kupu cenderung apatis dan menarik diri dari  kegiatan diluar akademik seperti organisasi. Mereka menganggap kegiatan seperti itu akan mengganggu akademik mereka. Mereka lebih memilih pulang setelah perkuliahan usai lalu mengurung diri di rumah atau kos dengan belajar atau kegiatan lainnya.  

Seperti halnya hikikomori yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, menjadi mahasiswa kupu-kupu pun bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti tuntutan orang tua misalnya. Mereka tumbuh dengan mindset bahwa kesuksesan itu adalah dengan sukses dibidang akademik tanpa diajarkan bagaimana pentingnya mencari pengalaman lain seperti berorganisasi .  Kemudian faktor lain yang mempengaruhinya mungkin dari diri mereka sendiri. Mereka merasa organisasi kurang cocok dengan karakter mereka dan merasa kesulitan berinteraksi dengan orang lain. 

Namun pendapat mengenai mahasiswa kupu-kupu sebagai bentuk sindrom hikikomori itu tergantung pada pribadi masing-masing yang menilai, karena pengertian hikikomori sendiri diartikan dari berbagai pandangan yang tentunya dapat menimbulkan berbagai pemahaman, ada yang secara harfiah, ada yang secara tingkah laku pelaku, ada yang menurut pendapat ini dan itu.

Hikikomori sendiri bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental seperti Depresi, Kecemasan, serta Keinginan untuk bunuh diri. Kemudian ada juga perilaku hikikomori yang berdampak positif, seperti contohnya seorang ilmuwan atau seniman yang sedang melakukan suatu proyek menciptakan suatu karya, mereka memisahkan diri dari lingkungan luar untuk waktu yang cukup lama. Ini juga termasuk dalam jenis hikikomori, hanya saja cara mereka melakukan hikikomori menghasilkan suatu hasil yang positif.

Untuk mengatasi fenomena ini, ada berbagai pendekatan yang bisa dilakukan, seperti mengatur kembali hubungan antar anggota keluarga, mulai mengurangi ketergantungan pada benda virtual dan banyak melakukan aktivitas sosial secara langsung, serta berkonsultasi dengan psikiater agar bisa mendapatkan perawatan yang tepat baik melalui konsumsi obat maupun melakukan berbagai terapi. Untuk kalangan mahasiswa sendiri, bisa dilakukan dengan mencoba mengikuti diskusi di kelas, organisasi, kepanitian, atau kegiatan lainnya yang membuat mereka berinteraksi dengan orang lain. Selain itu bisa juga dengan mengubah mindset yang awalnya berpikir bahwa dalam kuliah hanya akademik yang diperlukan menjadi berpikir bahwa baik akademik maupun organisasi memiliki kepentingan yang sama. Akademik penting, namun organisasi juga tidak kalah pentingnya.

Japan Corner

Budaya dan koleksi tentang Jepang di Universitas Hasanuddin

Artikel Terbaru