Salah Satu Penyebab Kesunyian di Beberapa Kawasan Negara Workaholic (Budaya Hikikomori Jepang)

Kesunyian di Beberapa Kawasan Negara Workaholic

Rezky Zulfiana

Dengan ragam budaya dan keindahan alam Jepang siapa yang tidak terpukau dengan negara maju tersebut. Apalagi dengan serba teknologi di mana-mana, sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Namun siapa sangka di negara matahari terbit itu muncul sebuah fenomena dimana sebagian masyarakatnya memiliki kebiasaan yang unik tetapi memicu permasalahan dalam aspek interaksi sosial. Hikikomori, sebuah fenomena yang muncul di Jepang yaitu perilaku mengurung diri, membatasi pergaulan selama lebih dari 6 (enam) bulan. Diketahui hampir 700 (tujuh ratus) ribu orang di Jepang ‘menghilang’. Mereka tidak menampakkan diri dan bisa sampai bertahun-tahun. 

Setelah Jepang menerima kekalahan usai Perang Dunia II, mereka memulai segalanya dengan bekerja lebih keras. Pada saat itu Jepang dianggap kaku dan hanya mengerti tentang kerja dan mendapatkan uang. Itulah mengapa sebagian warga Jepang sangat gila bekerja, mereka sibuk untuk menata negaranya lebih maju lagi. 

Dengan negara yang disiplin tinggi, hal apa saja harus diperhatikan dengan baik. Dengan tuntutan itu banyak yang merasa tertekan dan tak jarang mereka mngurung diri sampai merasa membaik. Tak jarang sebagian dari mereka memilih untuk bunuh diri karena efek stress, depresi, merasa tak layak hidup dan mengecewakan negaranya maka memilih jalan tersebut.

Orang yang mempunyai kecenderungan kebiasaan tersebut biasanya dialami oleh para remaja usia sekolahan. Namun ada pula pelaku hikikomori usia tua. Mereka tidak pernah atau jarang keluar rumah selama waktu yang mereka tentukan, kecuali untuk mencari makan atau kebutuhan sehari-hari. Mereka tidak bersosialisasi dengan yang lain hanya terfokus pada diri sendiri inilah efek dari perilaku individualisme. Mereka cenderung menyukai berada pada ruangan (indoor) daripada bergaul di luar (outdoor) menghadap laptop bermain game, berselancar di dunia maya tak jarang mereka lebih menyukai bergaul dengan dengan orang-orang di dunia maya seperti saling berkomunikasi online atau di game-game online. Ada pula yang hanya melamun saja. 

Hikikomori berawal dari suatu gerakan yang dinamakan Tokokyohi (penolakan sekolah), Otakuzoku (penggila manga dan anime) dan kekayaan ekonomi serta kemajuan teknologi yang mengubah keadaan sosial di Jepang. Dengan beberapa garis besar hal tersebut sangat menunjang penyebab mengapa sebagian masyarakat Jepang suka mengurung diri. Penolakan sekolah yang dialami oleh pelajar yang mendapatkan bullying dan akhirnya mengalami gangguan mental hingga akhirnya memilih untuk meninggalkan bangku akademiknya. Terkadang pelajar Hikikomori biasanya memiliki kelebihan dibandingkan dengan teman-temannya. Lantas mereka mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan karena hal tersebut. Adapula karena tekanan akademik di sekolah sangat tinggi, persaingan sangat banyak dan ketat, penetapan ‘grade’ yang tinggi, tidak ada kesempatan kedua kalinya jika gagal dalam ujian, sangat mempengaruhi kondisi mental pelajar Jepang.

Para Otaku yang sangat menggilai karakter virtual mengakibatkan ketertarikan mereka mengubah aksi sosialnya secara nyata. Sejenis para otaku bisa saja dijumpai pada negara lain misal yang menyukai secara dalam idol kpop atau western namun tidak sekuat perilaku anti sosial para Otaku. Bahkan banyak kasus akibat terlalu mencintai karakter virtual kesayangannya, akhirnya sampai menikahinya. 

Penunjang lain dari fenomena Hikikomori adalah kemakmuran keluarga. Karena mengetahui ekonomi keluarganya dapat menunjang hidup jadi mereka pikir tidak usah bekerja, ada biaya yang diberikan oleh keluarga. Jadi hanya menghabiskan di dalam rumah beraktifitas sesuai apa yang mereka sukai contoh bermain game, menonton film, dan bersosial media. Keluarga dari kelas menengah yang biasa-biasa saja dengan penghasilannya sangat jarang ditemui salah satu keluarganya seperti anak tidak memiliki perilaku Hikikomori. Hal itu karena biasanya mereka mendorong anaknya untuk bekerja di luar rumah memenuhi kebutuhan.  

Pelaku Hikikomori meskipun menyendiri di dalam rumah, ada pula cara mereka untuk menunjang kebutuhan atau mendapatkan penghasilan seperti bagi mereka yang gemar menggambar, membuat cerita, mendesain, mereka membuat doujinshi (karya yang diterbitkan sendiri biasanya berupa manga, majalah, atau novel) lalu mereka jual hingga ke negara lain yang ingin membacanya. Doujinshi sangat ramai dan populer apalagi doujinshi yang karakternya berasal dari karakter anime hal itu sangat banyak yang menyukainya. 

Sudah dikatakan bahwa pelaku Hikikomori adalah cenderung memiliki kelebihan. Selanjutnya, demi mendapatkan penghasilan tanpa bekerja di luar, mereka kadang membuat game. Orang-orang Hikikomori sangat aktif bermain sambil berinteraksi melalui media online terutama game online. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menaikkan level gamenya. Jikalau game tersebut sudah sangat kuat mereka bisa menjual akun dari game itu dengan harga yang fantastis. 

Pelaku Hikikomori yang mungkin saja membawa Jepang kepada pelaku yang Individualistis, Jepang mengadakan sebuah penanganan seperti membuka sebuah lembaga sosial bernama Youth Support Center dan tiap tahunnya terdapat 1500 keluarga pelaku Hikikomori menelpon untuk meminta bantuan. Ada juga lembaga lain bernama New Start dan para Konsuler. Sedangkan penanganan secara sosial dilakukan oleh stasiun televisi Jepang bernama NHK disana menekankan lingkungan pelaku Hikikomori. NHK  membuat sebuah tempat yang bernama Daycare yaitu tempat dimana pelaku Hikikomori saling berinteraksi. Selain itu, NHK juga membuat sebuah homepage yang khusus pelaku Hikikomori memberikan motivasi agar tidak takut untuk berkonsultasi. Mungkin itu cukup untuk menanggulangi masalah Hikikomori yang dialami Jepang apalagi sekarang sudah diangkatnya Menteri Kesepian yaitu Tetsushi Sakamoto yang semakin bisa mengkoordinir perilaku masyarakatnya 

Mengenai uraian diatas tentang Hikikomori yang dialami Jepang, pernah tidak menemukan pembahasan tentang Jepang pada konten di media manapun yang memperlihatkan keadaan daerahnya yang jarang dijumpai masyarakat yang berkumpul atau sekedar jalan? Hal itu mungkin terjadi pada daerah khusus, bukan di daerah metropolitan. Dari hal itu kita tau mengapa di Jepang sangat jarang dijumpai orang yang sekedar berbincang dengan tetangganya, tidak ada anak kecil yang lari-larian di jalan depan rumah. Fenomena tersebut mungkin saja salah satunya dipengaruhi oleh Hikikomori. 

Japan Corner

Budaya dan koleksi tentang Jepang di Universitas Hasanuddin

Artikel Terbaru