Totto-chan dan Bukti Efisiennya Metode Pengajaran yang Fleksibel

Judul : Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela 

Penulis : Tetsuko Kuroyanagi

Alih Bahasa : Widya Kirana

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tempat Terbit: Jakarta

Tahun Terbit : 2008 Cetakan ke-5

Tebal Buku : 272 halaman

 “Di sekolah lamanya, ia hanyalah sebuah benalu kecil di antara tumpukan emas, tetapi di Tomoe yang penuh dengan lumpur, ia pohon raksasa”.

Di dalam sebuah kelas, ketika semua murid sedang fokus memperhatikan gurunya mengajar, seorang gadis cilik sibuk melakukan hal lain. Mulai dari mencoret meja, membanting laci puluhan kali, berbicara dengan burung, hingga memanggil-manggil pemusik jalanan yang sukses mengacaukan kelas. Bagi sebagian orang, mungkin adegan itulah yang menjadi momen paling ikonik dari sebuah novel yang berjudul Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela.

Novel yang terbit pertama kali di Jepang tahun 1981 ini, menceritakan tentang kisah masa kanak- kanak penulis, Tetsuko Kuroyanagi, yang berlatarkan Jepang tahun 1941. Tetsuko yang masa kecilnya dipanggil Totto-chan adalah seorang anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu inilah yang membuatnya melakukan banyak hal tidak masuk akal di mata guru dan teman- teman sekelasnya. Sikap tersebut tersirat pada bab awal buku ini, ketika Totto-chan menanyakan bermacam-macam hal yang ada di stasiun kereta, berikut tentang rasa penasarannya terhadap petugas loket.

Berbagai cerita menarik mulai tercipta ketika Totto-chan akhirnya dipindahkan dari sekolah umum pertamanya, lantaran gurunya yang sudah tidak tahan melihat perilaku Totto-chan yang semakin aneh. Ibu Totto-chan kemudian memutuskan untuk memindahkan Totto-chan ke sebuah sekolah dasar sederhana bernama Tomoe. Sebuah sekolah yang ruang kelasnya terbuat dari gerbong kereta api. Meskipun jauh berbeda dengan sekolah umum lainnya waktu itu, Totto-chan sangat senang mengetahui dirinya akan belajar di tempat tersebut.

Sesampainya di sekolah, Totto-chan disambut oleh Kepala Sekolah Tomoe, Sasoku Kobayashi. Sosok bijaksana yang khas dengan rambut tipis dan gigi ompongnya. Mr. Kobayashi mampu mendengarkan Totto-chan bercerita selama berjam-jam dengan penuh antusias, bahkan hingga Totto-chan kehabisan bahan cerita. Hal tersebut membuat Mr. Kobayashi sangat disukai oleh Totto-chan.

Seperti Totto-chan, Mr. Kobayashi adalah karakter yang sangat saya sukai sejak kemunculan pertamanya dalam novel. Tidak heran, novel ini memang ditulis untuk mengenang sosoknya. Tetapi hal yang menurut saya jauh lebih menarik ketimbang keseharian Totto-chan adalah sistem pendidikan yang diterapkan oleh Mr. Kobayashi.

Sistem pendidikannya berpusat pada usaha menumbuhkan inisiatif dan keinginan belajar anak-anak, alih-alih mencekoki muridnya dengan segunung tugas. Metode yang diterapkan Mr. Kobayashi terbukti sukses mengubah Totto-chan dari seorang anak yang nakal dan keras kepala, menjadi anak yang lebih berperilaku manis dan penurut.

Selain karena kecintaannya pada anak-anak, cara mendidik Mr. Kobayashi di Tomoe banyak dipengaruhi oleh pengalamannya selama di luar negeri. Hal tersebut berpengaruh pada kurikulum dan kultur yang diterapkan di Tomoe. Salah satu yang paling unik adalah kultur makan siang, di mana Mr. Kobayashi meminta muridnya untuk membawa makanan yang “dari laut” dan “dari gunung”. Kebiasaan ini bertujuan untuk memastikan kecukupan gizi anak-anak. Mr. Kobayashi juga meminta agar para murid menggunakan pakaian paling lusuh mereka, agar tidak ragu ketika harus bermain di tempat yang kotor.

Mr. Kobayashi sangat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak-anak di masa perang dunia kedua. Masih kurangnya kesadaran untuk hidup sehat membuat beberapa murid di Tomoe mengalami cacat dan menderita penyakit seperti polio. Kobayashi seakan punya 1.001 cara untuk menanamkan nilai-nilai saling menghargai. Salah satunya dengan membiarkan muridnya berenang telanjang agar tidak ada satupun anak yang merasa berbeda dengan teman-temannya yang lain.

Momen yang mungkin akan selalu diingat para pembaca novel ini yaitu ketika dompet kesayangan Totto-chan jatuh ke dalam bak penampungan kotoran. Demi menyelamatkan dompet kesayangannya, Totto-chan membongkar bak penampungan itu lalu mengeluarkan isinya. Alih-alih memarahi, Mr. Kobayashi yang melihat perbuatan Totto-chan hanya memastikan kalau gadis itu akan membereskan apa yang ia bongkar.

“Kau akan membereskannya, kan?”

“Iya.” sahut Totto-chan. Kobayashi lalu meninggalkannya begitu saja.

Dari kejadian itu, tergambar jelas bahwa Mr. Kobayashi berusaha untuk memupuk rasa tanggung jawab muridnya dengan membiarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan, dengan catatan mereka akan membereskannya.

Apa yang telah dilakukan Mr. Kobayashi telah membuka mata Totto-chan. Bahkan setelah dewasa, Totto-chan menuliskan novel yang terdiri dari 63 bab pendek ini agar kita dapat mengenang sosok Kobayashi dan caranya mendidik anak.

Penggambaran suasana yang dituliskan Tetsuko dalam novel ini sangat kuat. Deskripsi sederhana diselipkan dalam setiap bab cerita keseharian Totto-chan. Berbagai penekanan berkali-kali diulang (seperti deskripsi karakter), atau kejadian ikonik dari tokohnya, memudahkan pembaca yang pelupa seperti saya untuk mengenal karakter-karakter pendukung dalam Novel ini. Suasana di Jepang selama rentan tahun 1941-1945 sangat kental tergambarkan. Nuansa masuknya masa perang dunia kedua semakin kuat di bab-bab terakhir, ketika tukang kebun sekolah mereka terpaksa dipanggil ke medan perang.

Kepolosan Totto-chan dalam setiap permasalahan yang dihadapinya mampu mengukir senyum di bibir saya. Selalu saja ada cara kreatif di mana ia bisa belajar hal baru. Bukan hanya sekadar pelajaran di sekolah, tetapi juga pengalamannya di rumah, hubungannya dengan keluarga, bahkan interaksinya dengan anjing peliharaannya.

Bagi saya, Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela adalah salah satu novel yang wajib dibaca bagi pegiat literasi, utamanya pengajar. Kisah Totto-chan yang manis juga metode pengajaran yang diterapkan Kobayashi, memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana seorang murid belajar dan bagaimana seorang guru mengajar. Penceritaan dengan bab-bab pendek membuat novel ini semakin ringan untuk dibaca.

Sekalipun novel ini adalah terjemahan dari Bahasa Jepang, tidak ada kesulitan dalam membacanya bahkan untuk orang awam sekalipun. Beberapa istilah dalam Bahasa Jepang seperti itadakimasu akan langsung diterjemahkan di sebelahnya dengan “selamat makan” atau langsung dibuat menyatu dengan naskah bukunya, alih-alih menaruhnya sebagai catatan kaki.

Sebuah keajaiban terjadi ketika Totto-chan si anak bandel berubah drastis menjadi anak yang manis dan penurut di Tomoe. Di sekolah lamanya, ia hanyalah sebuah benih kecil di antara tumpukan emas, tetapi ia baru bisa tumbuh di Tomoe yang penuh dengan lumpur. Secara tersirat hal ini memberi pelajaran bahwa kita tidak akan bertumbuh jika kita tidak berada di lingkungan yang cocok.

Penulis: Risman Amala Fitra

Japan Corner

Budaya dan koleksi tentang Jepang di Universitas Hasanuddin

Artikel Terbaru