Judul buku : Girls in the Dark
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Haru
ISBN : 978-602-7742-31-4
Halaman : 289
Tahun terbit : 2013
Buku ini bercerita tentang sebuah klub sastra yang berada di sebuah sekolah khusus putri bernama SMA Putri Santa Maria. Klub sastra ini terdiri atas tujuh siswi, terdiri dari ketua, wakil ketua, dan lima anggota. Shiraishi Itsumi, ketua klub, ditemukan meninggal bunuh diri dengan cara terjun dari teras dan memegang setangkai bunga lili. Karena kematiannya yang tiba-tiba dan membingungkan, beredar rumor bahwa Itsumi bukan bunuh diri, melainkan dibunuh oleh salah satu anggotanya di klub sastra. Bunga lili yang dipegang oleh Itsumi saat dia ditemukan meninggal itu menjadi clue yang disampaikan Itsumi tentang kematiannya yang misterius.
Klub Sastra memiliki sebuah tradisi pertemuan yang rutin dilaksanakan setiap akhir semester, yaitu Yami-nabe. Pertemuan ini dilakukan dengan cara peserta akan membawa bahan makanan yang dirahasiakan, kemudian pelayan panci akan memasukkan semua bahan ke dalam panci yang berisi air mendidih. Dalam pertemuan ini boleh membawa bahan yang bukan makanan, tetapi harus tetap higienis. Kemudian selama menyantap makanan, setiap peserta bergiliran membaca naskah cerita yang mereka buat sendiri. Hal menarik mengenai Yami-nabe adalah semua lampu akan dimatikan sepanjang pertemuan. Bahkan hanya disediakan sebuah lilin untuk membaca naskah. Jadi semua peserta tidak tahu apa yang mereka makan.
Setelah peristiwa kematian ketua klub tersebut, Sumikawa Sayuri, wakil ketua klub sastra tersebut, mengadakan Yami-nabe dengan tema naskah kematian Itsumi. Setiap anggota klub akan menulis naskah mereka masing-masing dengan analisis mereka tentang siapa pembunuh Itsumi. Begitulah cerita novel ini mengalir.
Novel ini adalah novel terjemahan luar negeri sekaligus novel bergenre misteri pertama yang saya baca. Jujur, saat saya membaca novel ini pada dua bab awal, saya sempat bingung. Karena pada bab kedua yang merupakan naskah pertama yang dibacakan (bab pertama adalah pembukaan oleh wakil ketua), anggota tersebut sudah menunjuk dan menceritakan secara jelas tentang pembunuh Itsumi beserta masalahnya. Saya yang saat itu masih kelas 2 SMP dan pertama kali membaca novel misteri, bingung kenapa pembunuh sudah diketahui sejak awal. Kemudian saya melanjutkan membaca setiap lembar dan kembali dibuat terheran-heran. Pada pertengahan buku, barulah saya sadar tentang bagaimana konsep cerita dari novel ini.
Sejak membaca bab pertama, saya sudah membayangkan sedetail apa Akiyoshi Rikako mempersiapkan dan melakukan riset untuk novel ini. Bagaimana cara Akiyoshi Rikako menjelaskan salon yang dibayangan saya terlihat megah seperti kastel, peralatan yang ada di dapur salon, penyebutan tokoh-tokoh ternama di bidang sastra, bahkan berbagai tempat di negara Bulgaria yang sempat muncul di novel ini juga sangat detail. Saya sempat terkejut bahwa negara yang tidak terlalu terkenal seperti Bulgaria masuk menjadi salah satu latar dalam novel ini. Selain itu, cukup banyak makanan-makanan asing yang baru saya ketahui setelah membaca novel ini. Saya hampir selalu mengecek google setelah menemukan nama makanan baru untuk melihat bagaimana wujud makanan tersebut.
Tidak hanya itu, saya juga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gaya bahasa yang digunakan Akiyoshi Rikako di buku ini. Melalui gaya bahasanya, saya menilai bahwa novel ini mengincar pasar anak muda karena gaya bahasanya yang santai dan kata-katanya sangat gampang diterima oleh anak muda.
Novel ini memiliki alur maju mundur. Kebingungan saya saat awal membaca novel ini menurut saya wajar. Karena baru kali ini saya menemukan novel yang memiliki banyak sudut pandang dari setiap tokoh sehingga perasaan sepanjang membaca novel ini menjadi sangat campur aduk. Ketika membayangkan kegiatan Yami-nabe pun sangat menyeramkan. Bayangkan kalian harus memakan sesuatu yang tidak kalian ketahui dan tidak bisa kalian lihat karena keadaan gelap. Kegelapan itu seakan menyelimuti saya sepanjang membaca novel ini. Siapa pembunuh aslinya, seperti apa kejadian sebenarnya, naskah siapa yang kejadiannya lebih akurat, pikiran-pikiran seperti ini tidak kunjung hilang karena setiap bab baru dan naskah baru dibacakan, saya kembali dibuat bingung dan penasaran tentang kebenaran ceritanya.
Saya adalah tipe yang sekali menyukai sebuah novel, saya akan membacanya berulang kali. Hal itu juga berlaku untuk novel ini. Entah sudah berapa kali saya membacanya, tapi saya tetap menemukan bagian-bagian unik yang sebelumnya tidak saya sadari. Salah satunya adalah bagaimana Akiyoshi Rikako menggambarkan ketidakadilan terhadap perempuan secara tersirat misalnya terhadap Kominami Akane, salah satu anggota klub sastra, yang keluarganya memiliki sebuah restoran terkenal di Jepang bernama Restoran Kominami. Akane sangat pandai membuat kudapan, bahkan menjadi tugasnya di klub sastra untuk membuat berbagai masakan saat mereka melakukan kegiatan klub. Tetapi Restoran Kominami akan diwariskan kepada kakak laki-lakinya dan Akane tidak diperbolehkan untuk masuk dapur. Bahkan semua yang ia pelajari tentang memasak hanya dianggap sebagai latihan menjadi seorang istri. Hal ini menurut saya tidak adil sekali. Menurut saya, setidaknya Akane dibiarkan ikut membantu di dapur, ikut memasak meskipun restoran itu tetap untuk kakak laki-lakinya.
Sampai hari ini, saya sudah membaca lima novel karya Akiyoshi Rikako. Setiap kali mulai membaca, saya sudah berkata pada diri sendiri agar tidak perlu sok berteori ini itu dan baca saja sampai selesai agar tidak pusing. Meskipun selesai membaca saya kembali pusing sendiri, pasti bilang, “kok bisa begini!!!”. Karena itu Akiyoshi Rikako menjadi salah satu penulis misteri favorit saya.

