Judul : Absolute Justice
Pengarang : Akiyoshi Rikako
Penerjemah : Andry Setiawan
Penerbit : Haru Media
Tahun Terbit : Mei, 2021
Tebal Buku : 268 hlm
ISBN : 978-623-7352-69-6
Novel karya Akiyoshi Rikako ini bercerita tentang misteri di balik surat yang diduga datang dari seorang korban pembunuhan. Hampir mirip dengan karya Akiyoshi Rikako lainnya, Girls in the Dark, novel ini membuat para pembacanya bertanya-tanya tentang arti “kebenaran”.
Noriko, tokoh utama dalam novel ini menggunakan sudut pandang melalui tokoh-tokoh lain, yaitu keempat sahabatnya dan anaknya. Noriko sangat terobsesi dengan kebenaran dari mata hukum, di mana semua argumen dan tindakannya selalu berdasar pada hukum. Noriko yang awalnya dianggap sebagai anak baik karena patuh dan terlihat membela ‘kebenaran,’ sebenarnya hanya seseorang yang menikmati perasaan menemukan kesalahan dan menghakiminya. Bahkan ia juga masuk ke kehidupan teman-temannya untuk memastikan mereka melakukan sesuatu sesuai idealismenya, yaitu sesuai hukum yang berlaku, tanpa peduli apakah itu akan membawa dampak yang buruk.
Kebenaran atau Kemanusiaan
Pahlawan hanya melihat kebenaran, dan bersungguh-sungguh melawan kejahatan. Namun dalam serangan pahlawan kebenaran, gedung dan alam sekitar rusak, mobil dan kereta terempas, dan orang-orang melarikan diri dengan bersimbah darah. Jika demikian, bukanlah pada akhirnya Noriko itu sama dengan yang dilakukan monster jahat? Pahlawan kebenaran itu hanyalah monster yang mengatasnamakan kebenaran.
Tokoh Noriko seperti sebuah penggambaran apabila hukum berjalan tanpa moral kemanusiaan. Hukum menjadi satu-satunya tolak ukur ‘kebenaran’ bagi Noriko. Hukum seharusnya dibuat untuk mengatur hidup manusia dalam bermasyarakat agar lebih harmonis. Lantas kenapa dengan taat hukum dengan ‘benar’ seperti Noriko malah justru mempersulit orang-orang? Apakah itu kebenaran yang sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu muncul selama saya membaca novel ini dan cukup membuat greget karena tokoh-tokoh lain tak berkutik ketika Noriko memberikan bukti-bukti tertulis tentang suatu hukum.
Tentu kebenaran tidak akan sempurna jika hanya dilihat melalui satu sudut pandang saja. Meskipun hukum bersifat objektif dan berlaku bagi seluruh masyarakat, keputusan dalam penghakiman tetap harus mempertimbangkan berbagai aspek terutama kemanusiaan.
Jika membicarakan hukum, tindakan yang diambil oleh Noriko dengan memberikan penghakiman ke semua orang dengan mengatasnamakan ‘kebenaran’ berdasarkan hukum itu tentu tidak tepat dan tidak adil. Terdapat asas “summum ius, summa iniuria,” yang artinya “hukum yang absolut adalah ketidakadilan yang tertinggi.” Percuma menegakkan suatu aturan hukum tetapi malah mengorbankan orang yang tidak seharusnya. Seperti pada episode ketika Noriko melaporkan para tunawisma yang menempati gedung tua saat musim dingin. Hingga pada hari berikutnya ada kabar bahwa dua orang tunawisma mati kedinginan.
Takut Dikucilkan
Dalam grup para gadis, bicara jelek tentang seseorang adalah hal yang berbahaya. Bisa dianggap sebagai penghianatan. Jadi, jika bukan sesuatu yang besar, orang yang mengadu bisa-bisa malah dikucilkan.
Terlepas dari ‘kebenaran’ yang selalu dielukan oleh tokoh utama, kebiasaan sosial masyarakat Jepang yang bisa langsung ditemukan dari novel ini adalah kebiasaan menyembunyikan pendapat pribadi agar bisa membaur serta adanya rasa takut akan dikucilkan atau dikeluarkan dari kelompok pertemanan. Beberapa sahabat Noriko digambarkan menahan diri untuk tidak memberi tahu yang lain meskipun mereka tahu bahwa mereka pasti akan dirugikan jika tetap bertahan. Hingga pada akhirnya mereka baru menyadari kalau mereka punya perasaan yang sama, yaitu membenci Noriko. Hal ini seakan menjadi sebuah kritik kepada masyarakat untuk lebih berani mengutarakan pendapat dan mengambil tindakan yang menurut mereka benar.
Batu Kebenaran
Novel yang menceritakan pola pikir dan perilaku Noriko ini cukup melelahkan untuk dibaca. Namun inilah khas dari iyamisu, subgenre dari misteri yang mengungkapkan sisi gelap dari manusia. Meskipun selalu muncul rasa jengkel selama membacanya, pembawaan alur cerita yang menggugah rasa penasaran membuat saya bertahan membaca sampai akhir. Penceritaan dengan sudut pandang orang pertama seperti ini membuat saya semakin penasaran dengan cerita dari tokoh lainnya, karena tiap sudut pandang saling melengkapi seperti susunan puzzle. Selain itu cerita dari sudut pandang anak Noriko yang berakhir membawa sifatnya serta epilog benar-benar membuat perasaan tidak nyaman namun berkesan. Seakan lingkaran “monster kebenaran” ini akan terus berputar ke generasi berikutnya.
Penulis: Alissa Qothrun Nada Darmawan

