Yustina Maria Helena Sea Panda
Setiap tahun di bulan Juni, kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer) merayakan ‘pride month’. ‘Pride month’ yang pada awalnya dinamai ‘gay pride day’ dirayakan pertama kali di New York, AS, tahun 1970. Hingga saat ini, ‘pride month’ tidak hanya dirayakan oleh kaum LGBT di Amerika saja, namun dirayakan juga hampir di seluruh dunia, termasuk Jepang. Berbicara tentang LGBT, di Jepang sendiri fenomena ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Edo (1603 – 1868).
Dilansir dari allabout-japan.com, ada satu istilah yang diberikan pada pelaku homoseksualitas pada pria, yaitu nanshoku (男色). Istilah nanshoku ini dibawa ke Jepang dari China oleh para biksu Buddha, istilah ini sebelumnya digunakan untuk menggambarkan hubungan antara dua biksu. Praktek LGBT di Jepang pada zaman itu banyak dilakukan oleh para samurai. Hal ini karena para samurai mempelajari serta mempraktekkan beberapa ajaran Buddha, sehingga nanshoku ini dapat dikatakan mudah untuk diterima dan diterapkan oleh para samurai. Selain itu, nanshoku juga sangatlah cocok dengan beberapa konsep kehidupan para samurai.
Gambar 1. Penggambaran hubungan antara dua samurai di zaman Edo (sc: japantimes.co.jp)
Tidak hanya nanshoku saja yang berpengaruh terhadap berkembangnya LGBT di Jepang pada zaman Edo, namun juga pertunjukkan seni teater yang sangat terkenal di zaman itu, yaitu kabuki. Pada awalnya, kabuki merupakan seni teater yang diperankan oleh perempuan. Namun, Kabuki justru dijadikan sebagai ajang prostitusi. Itu sebabnya, sejak 1629 pertunjukan ini dilarang diperankan perempuan, maka pemeran kabuki diganti oleh lelaki. Teater kabuki menjadi tempat bagi para lelaki maupun lelaki yang berpenampilan seperti perempuan untuk mencari lelaki ‘cantik’ dan muda.
Di masa ini, fenomena LGBT di Jepang masih terus berlanjut. Meskipun setelah zaman Edo homoseksualitas di Jepang sempat dianggap sebagai hal yang tabu untuk waktu yang cukup lama. Namun, seiring berjalannya waktu, tampaknya eksistensi LGBT kian hari makin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya event yang mengusung tema LGBT diselenggarakan di Jepang. Salah satu contohnya adalah Parade LGBT Tokyo Rainbow Pride. Dilansir dari situs resmi Tokyo Rainbow Pride (tokyorainbowpride.com), parade LGBT ini dilaksanakan setiap tahun sekitar bulan April – Mei. Parade ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Jepang secara luas mengenai LGBT dan dapat mengubah Jepang sebagai negara yang ‘ramah’ akan LGBT.
Gambar 2. Event Tokyo Rainbow Pride 2019
Terlebih lagi di tahun 2021 tepatnya bulan Maret, tersiar kabar bahwa pemerintah Jepang akan mengesahkan pernikahan sesama jenis di Jepang, sekaligus mengeluarkan undang-undang (UU) baru mengenai pernikahan sesama jenis (Jepang Bakal Sahkan Pernikahan Sesama Jenis (inews.id)). LGBT sebenarnya bukanlah merupakan hal yang ilegal di Jepang, hanya saja untuk pernikahan sesama jenis, butuh waktu yang lama agar ikatan pernikahan diakui dan dianggap sah oleh negara.
Dengan disahkannya UU baru mengenai pernikahan sesama jenis ini tentu saja menjadi angin segar bagi kaum LGBT di Jepang. Namun, hal ini juga dapat menimbulkan masalah lama bagi Jepang. Dilansir dari tribunnews.com, kabar24.com, dan ceic.com, angka kelahiran dan populasi di Jepang mulai menurun semenjak 9 tahun terakhir. Seperti yang diketahui, populasi penduduk di Jepang saat ini didominasi oleh lansia (> 65 tahun), sedangkan untuk penduduk usia produktif (15-64 tahun) mengalami penurunan setiap tahunnya sejak 2011.
Dengan adanya penurunan ini, maka bisa dipastikan tenaga kerja asli Jepang akan berkurang drastis. Begitu pula dengan angka kelahiran di tahun 2019 turun menjadi 5,9% dengan jumlah kelahiran di bawah 900.000 jiwa. Bahkan jumlah kematian ditahun yang sama tercatat lebih tinggi sekitar 500.000 jiwa. Pengesahan UU mengenai pernikahan sesama jenis ini bisa dipastikan akan menjadi pengaruh besar dalam penurunan angka kelahiran di Jepang di masa yang akan datang. Dengan kata lain, populasi penduduk usia produktif akan semakin menurun dan penduduk usia lansia akan semakin meningkat. Hal ini tentu saja dapat menjadi suatu masalah besar kedepannya. Saya sendiri bukanlah pribadi yang menentang maupun mendukung LGBT, karena kaum LGBT juga berhak mendapat perlakuan yang sama dengan individu lainnya sebagai umat manusia. Namun saya yakin, dengan pertimbangan matang yang sudah diputuskan oleh pemerintah Jepang dalam mengesahkan pernikahan sesama jenis di Jepang, masalah-masalah yang akan datang dapat diatasi dengan baik.

