Ada kontroversi mengenai asal-usul dan sejarah becak (rickshaw dalam bahasa Inggris atau jinrikisha dalam bahasa Jepang). Sejarah asal mula becak atau rickshaw besar kemungkinan ditemukan di Jepang. Dalam bahasa Jepang disebut jinrikisha. Dari susunan tiga karakter kanji dalam bahasa Jepang ini, jinrikisha (人力車)berarti kendaraan (dengan) kekuatan manusia. Tapi, seorang misionaris Amerika Serikat Jonathan Goble, yang pernah ditempatkan di Yokohama, mengklaim jinrikisha adalah ide dan ciptaannya. Di awal masa Meiji, jinrikisha ciptaan Goble itu digunakan isterinya yang difabel untuk berkeliling di kota Yokohama pada tahun 1869. Klaim Gobke ditulis dalam biografi Goble, berjudul Jonathan Goble of Japan: Marine, Missionary, Maverick, karya Calvin Parker. Tapi fakta ini agak sedikit meragukan banyak pihak.
Paten jinrikisha dapat dilihat dengan mengakses arsip nasional Jepang yang saat ini bisa diakses secara online. Menurut arsip Jepang ini paten jinrikisha pemerintah Jepang dipegang oleh tiga pria Jepang bernama Izumi Yosuke, Suzuki Tokujiro, dan Takayama Kosuke. Paten ini diberikan pada tahun 1870. Di dalam dokumen ini menuliskan jinrikisha diilhami oleh kendaraan yang ditarik dengan tenaga kuda yang telah dijadikan kendaraan umum di Tokyo. Setelah paten itu diberikan, pemerintah Jepang memberikan ijin produksi kepada tiga orang tersebut. Sejak jinrikisha diproduksi, kendaraan ini menjadi populer. Kemudian, kendaraan ini menjadi bagian dari kendaraan dan transportasi umum di kota Tokyo. Setelah diproduksi secara massal, pada tahun 1872, sekitar 40.000 jinrikisha terdaftar dan terdokumentasi secara resmi serta beroperasi di jalanan umum Tokyo.
Beberapa museum dunia, seperti Powerhouse Museum, Sydney, di Australia dan museum Toyota di Nagoya menjadikan jinrikisha sebagai koleksi berharga di dalam museumnya. Kedua museum jinrikisha membeli yang diproduksi di Jepang pada masa periode Meiji tahun (1868-1912). Bentuk becak di Indonesia tidak begitu mirip dengan bentuk jinrikisha. Sekarang ini jinrikisha sendiri dengan bentuknya yang masih dipertahankan orisinalitasnya, masih banyak ditemui tempat-tempat pusat pariwisata di Jepang, seperti di Asakusa di Tokyo atau di Gion, di Kyoto. Meskipun biaya sewa jinrikisha cukup mahal, tapi masih banyak menarik minat wisatawan asing atau untuk keperluan gambar pasangan atau syuting acara televisi.
Francis Warren dalam bukunya berjudul Rickshaw Coolie A People’s History of Singapore, 1880-1940 menggunakan data dari dalam arsip nasional Singapore. Menurutnya, becak Singapore, dengan model jinrikisha, muncul sejak tahun 1914. model dan gaya becak di Singapura adalah model jinrikisha ala Jepang. Menurut data di arsip nasional Singapore jinrikisha ini laris terjual di Jawa. Dari foto koleksi Tropen Museum, Belanda, terdapat becak model jinrikisha yang foto pada pertengahan tahun 1930-an di Medan. Apakah rickshaw ini yang diimpor dari Singapura?
Becak yang kemudian berkembang di Indonesia sendiri bentuknya sama sekali tidak mirip jinrikisha. Becak manual di Indonesia berbentuk seperti kendaraan yang sangat mirip dengan konstruksi sepeda biasa tapi beroda tiga. Bahkan nama awalnya, di tahun 1930-an, memang disebut dengan roda tiga dan bukan becak. Nama becak baru digunakan setelah kendaraan ini banyak dioperasikan oleh kelompok orang Tiong Hoa.


