Kisah Lagu Hana Wa Saku

Kisah Lagu Hana Wa Saku

Muslimah Nur Irfan

Lagu Hana Wa Saku (花は咲く)” bunga yang bermekaran” adalah lagu yang tidak asing bagi masyarakat Jepang bahkan lagu ini telah dicover dengan berbagai bahasa di seluruh dunia. Lagu ini tercipta dari rasa kemanusiaan di saat bencana Gempa dan Tsunami terjadi di Jepang 2011. Lagu ini membahas tentang rasa empati dan semangat untuk korban bencana. Lagu ini diproduksi oleh Great East Japan Earthquake Proyek NHK yang liriknya ditulis oleh Shuji Iwai dan Yoko Kanno sebagai komposernya. Lagu ini dinyanyikan sebanyak 33 artis yang berasal dari Miyagi, Iwate, Fukushima, ketiga daerah tersebut adalah daerah terparah saat terjadi bencana. 

Bencana yang terjadi di Jepang 2011 ini adalah bencana gempa bumi terbesar dalam sejarah Jepang. Menurut Wikipedia gempa bumi ini terjadi di sebelah barat Samudra Pasifik, 81 mil di timur Sendai, Honshu, Jepang. Gempa ini berkekuatan ± 9 Magnitudo sehingga menyebabkan gelombang Tsunami setinggi ±10 M di pantai Pasifik Jepang, bukan hanya di Jepang tapi sekitar 20 negara juga mendapat peringatan Tsunami ini. 

Korban dari bencana ini menurut Tokyo Broadcasting System (TBS) dan Japanese National Police Agency mengkonfirmasi bahwa 15.269 tewas, 5.363 luka dan 8.526 hilang, ini di enam prefektur. Bencana susulan yang terjadi akibat gempa ini yaitu banjir, tanah longsor, kerusakan bagunan dan infrastruktur serta bencana nuklir. Tahun itu merupakan tahun yang akan terus diingat oleh masyarakat Jepang, bahkan setelah bertahun- tahun berlalu warga Jepang masih mengingat dengan jelas bagaimana gempa dan tsunami datang dengan dahsyatnya menghantam Jepang. Saat memperingati 10 tahun insiden ini Kaisar Jepang Naruhito dan Perdana Menteri Yoshihide Suga ikut mengheningkan cipta di tugu peringatan Tokyo pukul 14.46 tepat saat gempa terjadi. Ada berbagai cara dilakukan warga Jepang untuk memperingati insiden ini seperti berkunjung ke makam kerabat,  membawa karangan bunga ke pantai dan berjalan-jalan ke pantai untuk mengenang kerabat yang hanyut terbawa tsunami dan tak pernah ditemukan. 

Dari bencana ini para musisi terinspirasi menciptakan lagu Hana Wa Saku “ Bunga yang Bermekaran “ hasil penjualan lagu ini disumbangkan untuk membantu rehabilitasi wilayah korban bencana. Lagu ini juga menjadi penguat korban karena makna lagu ini sangatlah mendalam. Lagu Hana Wa Saku ini juga telah dibuat versi Indonesia yang di artikan sekaligus dinyanyikan oleh Hiroaki Kato. 

Lirik bagian awal lagu ini yaitu “ Di jalan salju berwarna putih, tercium wangi musim semi. Aku teringat kota itu terkenang masa lalu” lirik ini bercerita tentang seseorang yang kembali mengingat kota yang dirindukannya saat ia mencium aroma musim semi, dari ini kita dapat menarik benang merah antara lirik dan bencana karena itu terjadi pada bulan maret yaitu pada saat musim semi. 

Pada lirik selanjutnya “ Ada mimpi ingin kuwujudkan, ada aku yang ingin berubah. Kini teringat akan dia terkenang masa lalu” makna dari lirik ini yaitu meski aku hanya dapat mengingat dan merindukan dia ( keluarga, kerabat) ada mimpi mereka yang ingin kuwujudkan, aku harus terus kuat. 

Lirik berikutnya “ Nyanyian seseorang yang terdengar memberikan semangat padanya. Senyuman seseorang yang terlihat jauh diseberang kesedihan”. Makna lirik ini yaitu ternyata dia (korban bencana) tidak sendiri ada banyak yang memberikannya semangat, selalu ada senyum bahagia dibalik kesedihan. 

Pada bagian reff “ bunga-bunga bunga pun bermekaran bagi engkau yang akan lahir kelak. Bunga-bunga bunga pun bermekaran, apakah gerangan yang telah kutinggalkan”. Makna pada bagian ini yaitu dimana bunga yang dimaksud adalah harapan, dan kebahagian yang lahir setelah kesedihan, dan pada “ apakah gerangan yang telah kutinggalkan”, itu bermaksud semoga yang kami lalui ini (bencana 2011) tidak terjadi pada kalian di masa depan, karena semua kesedihan telah berganti bahagia, semoga perjalan yang kami lalu itu menjadi pelajaran bagi kalian di masa depan. 

Dari lagu ini kita bisa melihat bahwa setiap manusia pasti memiliki rasa kemanusiaan, empati, dan kita tahu betul bahwa suatu bencana tidak bisa dilalui jika sendiri, kita butuh penguat, penyemangat agar setiap dari kepedihan, kesedihan dan air mata itu berubah menjadi senyum bahagia. Di setiap bencana harus saling membantu, tidak melihat kasta dan harta karena pada saat itu kita sama tak ada yang berbeda, kita kehilangan keluarga, kerabat bahkan orang terkasih. 

Ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa setiap badai pasti berlalu, tak ada badai yang terus menetap di satu tempat yang sama. Lagu yang tercipta dari rasa peduli ini kita belajar satu hal, bahwa setelah kesedihan pasti akan datang sebuah harapan untuk kebahagian di masa depan. 

Japan Corner

Budaya dan koleksi tentang Jepang di Universitas Hasanuddin

Artikel Terbaru