Riskiah Nurul Annisa
Di Jepang, terdapat istilah yang dikenal sebagai Ba no Kuuki wo Yomu (場の空気を読む), yang jika diartikan secara harfiah ke dalam Indonesia mungkin lebih dikenal sebagai “membaca suasana” atau “reading the air / reading the atmosphere” dalam Bahasa Inggris. Jika diartikan secara istilah, arti dari Ba no Kuuki wo Yomu, atau biasa disingkat kuuki wo yomu ini adalah keadaan ketika seseorang harus memahami suatu situasi tanpa adanya komunikasi verbal. Para penikmat anime atau J-drama mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah yang satu ini, karena konsep kuuki wo yomu ini memang telah melekat dalam kehidupan sosial masyarakat Jepang sejak dulu, namun istilah kuuki wo yomu ini baru banyak digunakan sejak tahun 2007 silam. Di Indonesia sendiri juga memang ada istilah “membaca suasana” yang secara harfiah memiliki arti yang sama dengan kuuki wo yomu ini, namun berdasarkan pengamatan Saya mengenai konsep dan istilah kuuki wo yomu yang nantinya berhubungan dengan banyak fenomena-fenomena sosial Jepang lainnya ini berbeda dengan hanya sekadar “membaca suasana” versi Indonesia atau versi negara di luar Jepang.
Kuuki wo yomu ini memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat Jepang, terutama dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Mereka dituntut untuk bisa mengerti situasi, perasaan dan pikiran seseorang, tanpa harus ada komunikasi verbal, apalagi dalam lingkungan kerja. Orang-orang yang tidak bisa membaca suasana di Jepang dikenal dengan julukan KY atau kuuki wo yomenai yang jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia berarti “tidak bisa membaca suasana”. Orang yang tidak bisa membaca suasana ini biasanya akan berakhir mengalami rundungan dan akan dikucilkan dalam lingkungan tersebut. Masyarakat Jepang sangat sensitif mengenai bagaimana seseorang harus berperilaku sebagai “makhluk sosial”, karena masyarakatnya sangat homogen. Mereka dituntut untuk bisa mengerti situasi sosial hanya dengan mengandalkan insting atau kepekaan mereka sendiri, dan vice versa, mereka juga mengharapkan orang lain melakukan hal seperti yang mereka lakukan, karena hal tersebutlah masyarakat Jepang “pandai” menyembunyikan perasaan mereka yang sesungguhnya, karena di jepang, mengutarakan pendapat/pikiran secara langsung adalah hal yang dianggap kurang sopan, maka dari itu jika ada orang yang “berbeda” baik karena ketidakmampuan mereka untuk membaca suasana, atau memang memiliki kepribadian kuat dan berbeda, kemungkinan besar mereka akan dikucilkan dari lingkungan sosial karena mereka dianggap tidak bisa mengikuti arus lingkungan sosial yang sebenarnya memaksa masyarakatnya untuk berpikir seragam dengan yang lain.
Tekanan-tekanan beretika inilah yang menurut saya salah satu faktor pemicu isu-isu sosial yang terkesan negatif muncul. Isu-isu sosial seperti hikikomori, kasus bunuh diri yang meningkat bahkan sampai mengangkat menteri kesepian. Sepengetahuan saya sendiri, di Jepang ada banyak aturan-aturan tidak tertulis (mungkin beberapa sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari) mengenai etiket-etiket bersosialisasi dalam masyarakat Jepang. Kuuki wo yomu ini mungkin cuma salah satu bagian kecil dari etiket-etiket itu. Menurut saya tuntutan-tuntutan beretika yang “tepat” ini lah yang membuat orang-orang Jepang banyak yang menjadi hikikomori, dan mungkin juga salah satu faktor yang membedakan antara orang-orang “anti sosial” di negara lain dengan “anti social” versi Jepang/hikikomori ini dalam menjalankan kehidupannya.
Hikikomori sendiri secara harfiah berarti menarik diri atau mengurung diri. Istilah ini adalah istilah masyarakat Jepang terhadap orang-orang di kalangan remaja sampai young adult yang menarik dirinya dari lingkungan sosial selama enam bulan atau lebih, dan tidak mengikuti kegiatan sosial apapun di lingkungannya. Menurut salah satu psikolog Jepang Tamaki Sato, kegiatan sosial yang dimaksud di sini adalah seperti pergi ke sekolah, bekerja, atau menjalin hubungan dekat dengan orang di luar anggota keluarga, dan masalah kejiwaan bukanlah masalah utama dalam fenomena ini. Hikikomori lebih diasosiasikan dengan hubungan antarpribadi, yang diikuti dengan resiko bunuh diri. Istilah Hikikomori sendiri merupakan istilah untuk fenomena ini dan pelaku itu sendiri. Sejak tahun 1990-an, hikikomori ini menjadi fokus perhatian sebagai masalah sosial baru di Jepang. Fenomena ini kebanyakan dialami oleh remaja yang telah atau belum lulus dari SMA atau universitas, atau mereka yang putus sekolah dan tidak bekerja lalu memutuskan hubungan sosial dengan siapapun dan kegiatan sosial apapun. Pada beberapa kasus mereka tidak bicara bahkan dengan anggota keluarganya, dan mengurung dirinya di dalam kamar dengan waktu tidur tidak teratur, tidur pada siang hari dan terbangun sepanjang malam.
Faktor utama dari fenomena hikikomori ini sendiri yaitu masalah antarpribadi, seperti bagaimana mereka mengaku tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan/kelompok tertentu, yang berarti bahwa hikikomori memiliki kesulitan untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan/kelompok tertentu. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kurangnya kemampuan berkomunikasi, atau jika kemampuan komunikasinya baik-baik saja, perasaan terasingkan mungkin yang menjadi faktor lainnya. Hal lainnya seperti bagaimana mereka merasa khawatir bahwa mungkin ia akan bertemu dengan orang yang ia kenal, juga perasaan takut bertemu orang lain, dan perasaan khawatir mengenai apa yang orang lain pikirkan mengenai mereka. Menurut saya hal-hal yang memengaruhi seseorang untuk menjadi hikikomori seperti di atas memiliki hubungan yang erat dengan bagaimana etiket-etiket sosial masyarakat Jepang “benarnya” dilaksanakan, kuuki wo yomu mungkin hanya salah satu dari banyak etiket sosial masyarakat Jepang yang ada.

