LGBT dan Kasus-Kasus yang Terjadi di Jepang

Rina Afdhaliah Asri

Sebenarnya apa sih itu LGBT? Pada umumnya LGBT adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Istilah ini awalnya tercipta untuk disematkan pada individu yang memiliki kecenderungan seksual tersebut. Masalah penyimpangan seksual seperti ini memang sedang dalam perdebatan yang hangat dibicarakan dalam masyarakat, mulai dari media cetak dan elektronik, mulai dari tokoh-tokoh penting, tokoh agama, dan dari kalangan biasa, LGBT ini sudah sangat menyebar luas dan terkesan agak bebas dalam beberapa negara, Namun dalam essai ini, penulis akan fokus kepada kasus Lesbian wanita dewasa di Jepang.

     Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan wanita dewasa bisa menjadi seorang lesbian, dan faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang menjadi lesbian biasanya adalah faktor ekonomi, faktor lingkungan sosial, memandang hubungan heteroseksual sebagai hubungan yang tidak menyenangkan, adanya trauma dimasa lalu saat menjalin hubungan dengan pria, dan pernah mengalami pelecehan seksual.

     Dalam ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan seperti Q.S. al-Rum : 21, Q.S al-Dzariyat : 49 dan Q.S Yasin : 36 di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender. Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo, dan bisa lesbi. Hal ini juga membuat orang-orang yang memiliki penyimpangan seksual selalu mencari jalan untuk ‘diakui’ dan diberikan kebebasan untuk mengekspos hubungan mereka tanpa mendapatkan caci maki dari orang-orang atau tindak pidana dari pemerintah yang dimana Negara nya tidak mendukung kasus LGBT.

     Apakah pemerintah Jepang termasuk Negara yang mendukung pasangan LGBT atau justru melarang keras hubungan tersebut?

  1. Isi
E:\KULIYAH\SASTRA JEPANG\SEMESTER 6\Sejarah Jepang Kontemporer\WhatsApp Image 2021-06-03 at 16.43.18.jpeg
E:\KULIYAH\SASTRA JEPANG\SEMESTER 6\Sejarah Jepang Kontemporer\WhatsApp Image 2021-06-03 at 16.43.26.jpeg
E:\KULIYAH\SASTRA JEPANG\SEMESTER 6\Sejarah Jepang Kontemporer\WhatsApp Image 2021-06-03 at 16.43.35.jpeg
E:\KULIYAH\SASTRA JEPANG\SEMESTER 6\Sejarah Jepang Kontemporer\WhatsApp Image 2021-06-03 at 16.43.43.jpeg
E:\KULIYAH\SASTRA JEPANG\SEMESTER 6\Sejarah Jepang Kontemporer\WhatsApp Image 2021-06-03 at 16.43.51.jpeg
E:\KULIYAH\SASTRA JEPANG\SEMESTER 6\Sejarah Jepang Kontemporer\WhatsApp Image 2021-06-03 at 16.43.59.jpeg
E:\KULIYAH\SASTRA JEPANG\SEMESTER 6\Sejarah Jepang Kontemporer\WhatsApp Image 2021-06-03 at 16.44.07.jpeg
E:\KULIYAH\SASTRA JEPANG\SEMESTER 6\Sejarah Jepang Kontemporer\WhatsApp Image 2021-06-03 at 16.44.19.jpeg
E:\KULIYAH\SASTRA JEPANG\SEMESTER 6\Sejarah Jepang Kontemporer\WhatsApp Image 2021-06-03 at 16.44.29.jpeg
E:\KULIYAH\SASTRA JEPANG\SEMESTER 6\Pemahaman Lintas Budaya\WhatsApp Image 2021-05-21 at 10.38.07.jpeg

     Diatas merupakan contoh banyaknya kasus para LGBT yang ingin diakui di Jepang dan kasus-kasus personal lainnya tentang penyimpangan seksual. Pada Essai ini saya akan membahas tentang kasus paling akhir, yaitu kasus Perselingkuhan seorang istri dengan sesama jenis yang dimana sang istri yang berusia 37 tahun tersebut diperintahkan untuk membayar denda kepada suaminya sebesar Rp. 14 Juta, Sang suami yang berusia 39 tahun itu juga telah menggugat kekasih istrinya yang berusia 35 tahun tersebut atas hubungan seks di luar nikah antara pasangan sesama jenis dan dihitung sebagai perselingkuhan.

     Kabarnya kedua wanita tersebut bertemu secara online. Di pengadilan, sang istri berargumen bahwa pernikahannya tidak berakhir karena dia berhubungan seks dengan wanita tersebut, Karena yang kita ketahui berhubungan seks dengan sesama jenis adalah sesuatu yang bukan ‘pasangannya’ maka dari itu pasti tidak ada sesuatu yang ‘rusak’, maka dari itu sang istri bersikeras bahwa tindakannya tersebut bukanlah suatu perselingkuhan. Namun, pengadilan memutuskan bahwa perselingkuhan tersebut telah merusak perdamaian. 

     Dikutip dari The Sun. Kasus tersebut mengakui bahwa persatuan sesama jenis harus diperlakukan sama dengan pernikahan dalam hukum Jepang. Hakim mengatakan bahwa hubungan itu ‘setara’ dengan pasangan suami istri. Jepang adalah satu-satunya negara G7 yang tidak secara hukum mengakui pernikahan gay. Awal bulan ini, Pengadilan Distrik Sapporo memutuskan bahwa tidak konstitusional bagi pemerintah Jepang untuk tidak mengakui pasangan sesama jenis.

     Dari kasus ini kita semua dapat menilai bahwa negara Jepang ini mengakui hubungan LGBT secara 50:50 atau setengah-setengah, karena di satu sisi pemerintah Jepang menyamaratakan perselingkuhan seorang istri dengan wanita lain seperti dengan kasus perselingkuhan pada umum nya, tapi di satu sisi juga Jepang tidak mengakui bahwa hubungan LGBT itu legal di negara mereka. Apakah kedepannya negara Jepang benar-benar akan melegalkan hubungan LGBT secara hukum karena banyaknya kasus-kasus para penyimpang seksual yang menuntut agar mereka diakui?

     Dimana kita ketahui bahwa Jepang sendiri adalah negara yang tidak terlalu kental dengan hal-hal agamis, Jepang memiliki banyak banyak faktor pendukung yang menyebabkan seseorang dapat menjadi, lesbian, gay, atau bisexual, seperti faktor kemiskinan dan faktor lelah merasa disakiti dengan lawan jenis mereka, karena Jepang juga terkenal dimana para lelakinya lebih suka menjalani hubungan dengan robot wanita dibandingkan dengan wanita asli.

     Pria Jepang dikabarkan takut menikah dengan wanita asli yang bukan robot karena faktor ekonomi dan faktor kepercayaan diri, hal tersebut juga bisa menjadi pacuan para wanita jepang menjadi lesbian, karena kurangnya pria yang menginginkan pasangan wanita manusia asli. 

     Dikabarkan negara Jepang juga sebenarnya sedang mengalami krisis ekonomi yang sangat drastis selama 30 tahun terakhir yang menyebabkan kemungkinan para wanita dewasa Jepang tidak betah dan menganggap memiliki suami bukanlah jalan keluar untuk mengangkat perekonomian mereka. Maka dari itu ada beberapa kasus bahwa wanita dewasa Jepang lebih memilih untuk menjalani hubungan sesama jenis dengan warga asing yang juga merupakan lesbian.

     Apakah Jepang dapat menanggulangi warganya yang sudah terang-terangan menunjukkan penyimpangan seksual mereka? Apakah Jepang akan mendukung para LGBT atau malah melarang adanya hubungan sesama jenis tersebut untuk menjaga nama baik negara mereka?

Kesimpulan

     LGBT bukanlah sesuatu yang dapat dikatakan sebagai ‘open minded’ karena pada dasarnya hal tersebut adalah suatu penyimpangan sexual yang merugikan banyak orang, seperti yang terjadi pada kaum Nabi Luth yaitu kaum Sodom yang membangkang dan suka sesama jenis serta berperilaku seks menyimpang itu diazab dengan batu-batu besar yang dijatuhkan dari langit dan menjungkir balikkan kota. Kaum LGBT modern juga suatu saat akan merugikan banyak orang karena bencana konspirasi dan menyebabkan banyak pertikaian antara orang yang pro dengan yang kontra.

     Ada baiknya pemerintah Jepang mempertimbangkan dengan sangat matang sebelum menyetujui akan legalnya hubungan LGBT di negara mereka. Karena menurut saya penyimpangan sexual tidak mendatangkan manfaat sama sekali kecuali seperti kasus-kasus diatas.

Japan Corner

Budaya dan koleksi tentang Jepang di Universitas Hasanuddin

Artikel Terbaru