Meski demikian, sumber dengan perspektif yang berbeda menunjukkan bahwa temuan dan desain becak yang ada di Indonesia besar inovasi dari komunitas dagang (imigran) Jepang. Mereka ini telah ada sebelum pendudukan militer Jepang di Indonesia. Imigran ini sering juga disebut sebagai komunitas toko Jepang, karena orang-orang Jepang itu banyak yang memiliki toko-toko.
Mengapa bisa imigran Jepang? Pertama, menurut observasi yang menjadi bagian dari disertasi saya, pada zaman pendudukan Jepang, komoditas sepeda Jepang membanjiri pasaran Indonesia. Beberapa peneliti telah menuliskan dengan “membanjirnya” sepeda produk Jepang, seperti yang dituliskan oleh Peter Post awal tahun 1990-an. Menurut Post, pada awal tahun 1930-an, produk sepeda Jepang menguasai pasaran di Asia Tenggara. Termasuk juga di Cina. Di Hindia Belanda produk Jepang ini juga dipasarkan oleh toko-toko Cina.
Satu catatan penting yang membahas tentang bagaimana sepeda-sepeda itu dikreasikan menjadi becak adalah tulisan Tamaki Shibukawa tahun 1941. Shibukawa adalah seorang jurnalis yang keliling Nusantara. Ia menuliskan, “Suara bel yang berbunyi dari tiga roda (becak) di jalanan-jalanan Makassar sangat ribut.” Ia menuliskan bahwa sepeda yang dijadikan menjadi tiga roda hasil karya dari Tayoshi Seiko yang pada saat ia temui berusia 50-an tahun pada pertengahan tahun 1930-an. Saat itu istilah becak sepertinya belum muncul. Suplai sepeda (produksi Jepang) yang berlebih membuatnya memaksanya untuk membuat becak. Seiko-san adalah salah satu dari komunitas pedagang Jepang yang tinggal di Makassar. Seiko-san sendiri adalah salah seorang karyawan dari toko Sepeda A. Doi.
Toko sepeda ini merupakan satu dari 11 toko sepeda yang ada di Makassar saat itu. Penduduk Jepang saat itu kebanyakan adalah warga Jepang yang berasal dari Wakayama dan sebagian besar pula dari mereka berjualan sepeda.
Menurut Shibukawa, 4000 lisensi diberikan untuk operasional tiga roda. Tapi kemudian lisensi ini berkurang karena becak-becak itu kemudian dikirim ke Batavia.


